Jumat, 18 Oktober 2013

KATA HIKMAH



Yang kemarin, hanya ada dalam ingatan.
Untuk esok, hanya orang yang mampu dengan harapan.
Yang sekarang, ini adalah yang sebenarnya.
Dimana setiap orang harus menerima, dengan penuh kesadarannya.
Siapa sekarang yang tidak ingin membuka mata, esokpun akan tetap buta.

~TETAP SEMANGAT MENUJU KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN~

Kamis, 17 Oktober 2013

Bayangan Yang Tak Terkejar


siluet muslimah
Sosoknya adalah sosok yang penuh cinta, kelembutan dan pribadi yang begitu memesona. Jilbab dan gaun gamis yang dikenakan memancarkan sosok muslimah yang ideal dan seorang ibu yang berwibawa. Pada setiap pertemuan, dia tidak akan pernah lupa untuk membuatkan kue. Kue sederhana namun sangat dinanti oleh semua rekan – rekan. Usia kami hampir sama, dan dia sudah memiliki seorang putera. Suaminya bekerja sebagai pegawai biasa, namun dukungan dari ibu mertua sangat membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beruntunglah, mertuanya sangat baik dan cuckup berada. Mereka bisa tinggal di rumah milik ibu dari suaminya.
Setelah hampir satu tahun tidak mengadakan kontak, kami berjanji untuk bertemu. Dia akan mengadakan survei dan sekaligus bersilaturahmi. Dia duduk di hadapan saya. Senyumnya ramah, tutur katanya halus. Masih seperti dulu. Namun, ada satu yang berubah saat ini. Dia tidak menggunakan gamis seperti biasanya. Dia masih berjilbab, namun untuk ukuran dia yang selama ini saya kenal, saya merasa dia telah berubah. Ups! Saya mencoba menepis prasangka buruk ini. Saya tidak berhak untuk menilai, terlebih sekehendak hati.
“Hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya bekerja untuk anak-anak. Mas tidak bisa menafkahi kami dengan cukup..” Saya sudah bisa menduga alasannya. Namun ada penolakan yang dahsyat pada benak saya. Tadinya saya berfikir dia bekerja di sebuah lembaga riset, karena dia mengatakan akan mengadakan survei atau jajak pendapat terhadap saya.
Namun ternyata, kenapa harus bekerja pada lembaga ini, yang jelas–jelas menjalankan usaha riba? Pertanyaan itu hanya tercekat di kerongkongan.
Sekarang dia meminta saya untuk menjadi nasabahnya, dia sangat piawai menjelaskan segala keunggulan produknya. “Mbak, secara pribadi sebagai manusia normal, saya tentu ingin mendapatkan produk yang mbak tawarkan karena pendapatan yang akan saya terima sungguh luar biasa. Namun, saya tidak bisa menerimanya, karena ini mengandung unsur riba, mbak lebih faham tentunya” saya berusaha memberikan penjelasan tentang penolakan saya secara baik. Saya berharap, dia akan tersadar dengan segala ilmu agama yang pernah dipelajarinya.
Doktrin tentang keunggulan produk dan pembelaan dan sangkalan tentang penjelasan saya membuat saya semakin sedih. Saya terluka, saya merasa kehilangan dia..
Sebagai wanita yang juga bekerja, saya sungguh memahami motivasinya untuk membantu ekonomi keluarga. Saya juga mengerti akan kesulitannya. Namun, saya tidak berharap dia untuk seperti ini. Penghasilannya sudah mencapai 20 juta rupiah perbulan, semakin aktif membangun jejaring bisnis, mencari teman baru karena target yang dikejar semakin tinggi. Sementara dia aktif membangun mimpi, anaknya berdua dengan sang bapak, di rumah..ya berdua saja.
Saya merasa sakit, sedih, dan marah. Saya sungguh tak berdaya mengejarnya, saya tak sanggup untuk membuatnya kembali seperti dulu, seorang wanita sederhana yang menyejukan mata. Saya ingin merengkuhnya, memasukkan kembali ke dalam kenangan masa lalu yang terpatri di benak.
Maafkan kami ya Rabb, atas segala kelemahan diri.
Nenda_2001@yahoo.com

Yahya Schroder : Rela Tinggalkan Kenyamanan Hidup Untuk Meraih Islam



Bulan November tahun 2006, menjadi bulan bersejarah bagi remaja Jerman itu. Karena pada saat itu ia yang masih berusia 17 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim. Ia memilih Yahya, sebagi nama Islamnya dan sejak itu remaja Jerman yang kini tinggal di Postdam, dikenal dengan nama Yahya Schroder.
Yahya hidup berkecukupan dengan ibu dan ayah tirinya di sebuah desa kecil di Jerman. Ia tinggal di rumah yang besar lengkap dengan kolam renang yang luas. Di kamarnya ada tv dan play station dan Yahya tidak pernah kesulitan dalam masalah uang. Seperti remaja lainnya, Yahya sering pergi bergerombol bersama teman-temannya, minum alkohol atau melakukan hal-hal yang konyol.
Tapi semua kenikmatan dunia itu harus ia tinggalkan ketika ia memutuskan masuk Islam. Setelah menjadi seorang mualaf, Yahya memilih tinggal dekat ayahnya yang sudah lebih dulu masuk Islam, di Postdam dekat kota Berlin. Yahya mengaku tidak merasa bahagia meski saat masih ikut ibu dan ayah tirinya yang kaya, hidupnya serba enak. “Saya mencari sesuatu yang lain,” ujarnya.
Yahya mengenal komunitas Muslim di Postdam ketika ia berusia 16 tahun, lewat ayah kandungnya yang lebih dulu masuk Islam pada tahun 2001. Ketika itu, ia biasa mengunjungi ayah kandungnya sebulan sekali dan sering ikut sang ayah menghadiri pertemuan-pertemuan dengan komunitas Muslim yang diselenggarakan setiap hari Minggu.
Yahya merasa tertarik dengan Islam dan ayahnya memperhatikan hal itu. Hingga suatu hari sang ayah mengatakan tidak mau membahas soal Islam ketika mereka sedang berdua saja. Ayah Yahya menginginkan puteranya itu belajar dari orang-orang yang ilmunya tentang Islam lebih tinggi agar jika Yahya masuk Islam tidak dipandang cuma ikut-ikutan apa yang telah dilakukan ayahnya.
“Saya setuju dengan ayah dan saya mulai menghadiri pertemuan-pertemuan itu sendiri, setiap bulan. Tapi saat itu terjadi sesuatu hal yang mengubah cara berpikir saya,” ujar Yahya.
Yahya bercerita, ia mengalami kecelakaan saat pergi berenang bersama komunitas Muslim. Ketika ia melompat ke kolam renang dari ketinggian, kepalanya membentur dasar kolam renang dan tulang punggungnya patah. Ayahnya membawa Yahya ke rumah sakit dan dokter di rumah sakit itu mengatakan hal yang membuat gentar hatinya.
“Punggungmu mengalami patah tulang yang parah, satu satu saja gerakan yang salah, bisa membuatmu lumpuh,” kata dokter.
Yahya harus menjalani operasi. Beberapa saat sebelum masuk ruang operasi, teman Yahya di komunitas Muslim bernama Ahmir memberinya semangat, “Yahya, sekarang engkau berada di tangan Allah. Ini seperti naik rollercoaster. Sekarang engkau sedang berada dalam puncak kenikmatan naik sebuah rollercoaster dan percayalah pada Allah.”
Operasi berlangsung selama lima jam dan Yahya baru siuman tiga hari kemudian. “Saya tidak bisa menggerakan tangan kanan saya, tapi saya merasa sangat bahagia. Saya bilang ke dokter bahwa saya tidak peduli dengan tangan kanan saya. Saya sudah sangat bahagia Allah telah membiarkan saya tetap hidup,” tutur Yahya. Dokter mengatakan Yahya harus dirawat di rumah sakit dalam beberapa bulan. Tapi Yahya cuma dua minggu di rumah sakit, karena ia berlatih dengan keras. Yahya bahkan sudah bisa naik turun tangga dua hari sebelum seorang dokter datang dan mengatakan bahwa hari itu ia akan berlatih naik tangga.
“Alhamdulillah saya cuma dua minggu di rumah sakit. Sekarang saya sudah bisa menggerakan tangan kanan saya. Kecelakaan itu telah banyak mengubah kepribadian saya,” aku Yahya.
“Saya merasakan, ketika Allah menginginkan sesuatu terjadi, hidup seseorang berubah total dalam hitungan detik. Oleh sebab itu, saya lebih menghargai kehidupan dan mulai berpikir tentang kehidupan saya dan Islam, tapi saat itu saya masih tinggal di sebuah desa kecil,” kisah Yahya.
Keinginan Yahya untuk menjadi seorang Muslim makin kuat, sehingga ia berani memutuskan untuk meninggalkan keluarganya di desa itu. Yahya menuturkan, “Saya meninggalkan ibu dan ayah tiri saya, meninggalkan gaya hidup saya yang mewah dan pergi ke Postdam, tinggal di apartemen kecil ayah kandung saya. Saya tak keberatan harus menempati sebuah dapur kecil, karena saya cuma membawa sedikit pakaian, buku-buku sekolah dan beberapa CD.”
“Kedengarannya saya kehilangan segalanya, tapi saya merasa bahagia, sebahagia ketika saya siuman di rumah sakit setelah kecelakaan buruk itu,” ujar Yahya.
Diejek Teman Sekolah
Sehari setelah hari pertamanya masuk sekolah di Postdam, Yahya mengucapkan dua kalimat syahadat. Yahya pun menjalani kehidupan barunya sebagai seorang Muslim, meski di sekolah banyak yang mengejeknyakarena menjadi seorang Muslim. Beberapa orang menganggapnya “gila” bahkan tidak percaya kalau dirinya orang Jerman asli.
“Saya melihatnya sebagai hal yang biasa karena informasi yang mereka baca di media tentang Islam dan Muslim. Media massa menulis tentang Islam yang disebut teroris, Usamah bin ladin, Muslim yang jahat, dan sebagainya,” tukas Yahya.
Sepuluh bulan berlalu dan situasi mulai berubah. Yahya aktif berdakwah pada teman-teman sekelasnya dan ia mendapatkan sebuah ruangan untuk salat, padahal cuma dia satu-satunya siswa Muslim di sekolahnya.
“Teman-teman sekelas berubah, yang dulunya menggoda saya karena masuk Islam, sekarang banyak bertanya tentang Islam dan mereka mengakui Islam tidak sama dengan agama-agama lainnya. Menurut mereka, Islam itu keren!” kata Yahya menirukan pendapat teman-temannya.
Yahya mengungkapkan, teman-teman sekolahnya menilai Muslim memiliki adab yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia, bebas dari tekanan teman sekelompok seperti yang terjadi di sekolah mereka. Saat itu siswa-siswi di sekolah Yahya cenderung berkelompok atau membentuk genk, mulai dari genk hip hop, punk sampai kelompok genk siswa yang hobinya berpesta. Setiap siswa berusaha keras untuk diterima menjadi anggota genk itu.
Tapi Yahya, ia bisa berteman dengan siapa saja. “Saya tidak perlu mengenakan pakaian khusus agar terlihat keren. Yang terjadi malah, genk-genk itu sering mengundang saya dan teman-teman Muslim saya ke pesta-pesat barbeque mereka,” tandasnya.
“Yang istimewa dari semua ini adalah, mereka menghormati saya sebagai seorang Muslim. Mereka membelikan makanan halal buat saya dan mereka menggelar dua pesta barbeque, satu untuk mereka dan satu untuk kami yang Muslim. Masyarakat disini sudah mulai terbuka dengan Islam,” sambung Yahya mengenang masa-masa sekolahnya.
Yahya menambahkan, ia merasa lebih mudah menjadi seorang mualaf daripada menjadi seorang yang memang sudah Muslim sejak lahir. Ia banyak melihat banyak anak-anak muda Muslim yang ingin menjadi orang Jerman dan melihat Islam hanya sebagai tradisi. Anak-anak muda itu, kata Yahya, bersedia melepas ‘tradisi’ keislamannya supaya bisa diterima di tengah masyarakat Jerman.
“Meskipun faktanya, orang-orang Jerman tetap tidak mau menerima mereka meski mereka melepas agama Islamnya,” ujar Yahya.
Ia mengakui, kehidupan seorang Muslim di Jerman tidak mudah karena mayoritas masyarakat Jerman buta tentang Islam. “Kalau mereka ditanya tentang Islam, mereka akan mengatakan sesuatu tentang Arab. Buat mereka, pertanyaan itu seperti soal matematika, Islam=Arab”. Padahal negara ini memiliki bangsa yang besar,” tukas Yahya. (red/readislam)

Rabu, 16 Oktober 2013

PENGEMBALIAN ARTIKEL KOMPAS

Yth. Sdr BAHRAWI
ditempat.
 
 
Disertai salam dan hormat,
 
Kami memberitahukan bahwa pada tanggal 16 Oktober 2013 Redaksi Kompas telah menerima ARTIKEL Anda berjudul "Qurban: Media Upaya Mencapai Kesalehan Ritual Dan Sosial". Terima kasih atas partisipasi dan kepercayaan yang Anda berikan kepada Kompas.
Setelah membaca dan mempelajari substansi yang diuraikan di dalamnya, akhirnya kami menilai ARTIKEL tersebut tidak dapat dimuat di harian Kompas. Pertimbangan kami,
   √ kesulitan mendapatkan tempat
Harapan kami, Anda masih bersedia menulis lagi untuk melayani masyarakat melalui Kompas, dengan topik atau tema tulisan yang aktual dan relevan dengan persoalan dalam masyarakat, disajikan secara lebih menarik.
Untuk kelengkapan administrasi, bila mengirimkan tulisan mohon disertakan pas foto (Abaikan bila sudah pernah kirim). Terima kasih.
 
Jakarta, 16 Oktober 2013
Hormat kami,

Desk Opini Kompas
 
 
C A T A T A N :
Kriteria umum untuk ARTIKEL Kompas :
1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain .
2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain termasuk Blog, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.
3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang actual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.
4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komuninas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.
5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.
6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.
7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.
8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.
9. Menyertakan data diri/daftar riwayat hidup singkat (termasuk nomor telepon / HP), nama Bank dan nomor rekening (abaikan bila sudah pernah kirim).
10. Alamat e-mail opini@kompas.co.id

Selasa, 15 Oktober 2013

IDUL ADHA 1435 H


CIVITAS AKADEMIKA YAYASAN AL-JAZIRAH
Mengucapkan :
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1434
"Berbekal Iman dan Ketaqwaan. Idul Adha Berbagai
Lambang Ukhuwan dan Pengabdian"
Sampang, 15 Oktober 2013

Ketua Yayasan 
 

 Ttd
BAHRAWI

Senin, 14 Oktober 2013

QURBAN : Media Upaya Mencapai Kesalehan Ritual Dan Sosial


By : BAHRAWI (Ketua Yayasan Al-Jazirah Karangpenang Sampang)


Konon nabi Ibrohim as dikarunia seorang anak bernama Ismail anak kesayangan yang kemudian diperintahkan oleh Allah lewat mimpi untuk menyembelihnya. Mula-mula Ibrahim as sangsi atas apa yang menimpanya, dalam usia Ismail yang ke tujuh tahun ia dibawa oleh ayahnya untuk melaksanakan pengorbanan sebagai wujud persembahan cinta terhadap pencipta, tapi tidak ada yang tahu kehendak Allah. Akhir kisah sebelum pisau Ibrahim as menggorok leher Ismail as, seekor domba besar diutus oleh Allah menggantikan posisi Ismail as, setelah akhirnya nyata kesetiaan dan cinta Ibrahim teruji dan memuaskan.
Kisah itulah yang sampai sekarang diadopsi masyarakat muslim sebagai akar tumbulnya ritual qurban yang dilakukan rutin setiap tahun, dan tidak ada alasan menolak formulasi yang telah digariskan baik secara daliliyah maupun histories itu, terutama sekali bahwa ada kesesuaian antara waktu qurban Nabi Ibrahim as dengan realisasi qurban saat ini, yakni tanggal 10 Dzul Hijjah terlepas dari tasrik juga termasuk ke dalam waktu berqurban.
Tapi bagaimanapun, kerangka pijakan sejarah sebenarnya tetap saja dikembangkan dari dalil-dalil yang justru dari situlah acaun dasar ditetapkannya hukum praktek qurban. Itulah sebabnya bahwa perumusan qurban-qurban menjadi ritual tidak lepas dari teori daliliyah yang ada saat ini. Dalil tersebut banyak kita temukan dalam nast al-qur’an dan redaksi al-hadist, misalnya dalam surat Al-Kautsar ayat dua yang menyatakan maka dikirikanlah sholat karena tuhanmu dan berqurbanlah. Ditambah lagi dengan adanya redaksi hadist yang diceritakan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah yang menyebutkan bagi seorang muslim yang mampu berqurban akan tetapi tidak melaksanakan, maka sabda Nabi jangan sekali-kali dating di tempat sholat kami.
Maka dari itu ada dua kemungkinan dua hukum realisasi qurban, dan memang demikian pendapat sekaligus pertentangan para ulama’. Ada sebagian menetapkan hukunya wajib, berdasarkan redaksi hadist diatas ada pula sebagian lainnya menetapkan sebagai prilaku sunnah.

Hikmah Qurban
Setiap perintah Allah pasti mengandung hikmah meskipun kadangkala hikmah tersebut hanya diketahui oleh meraka yang memang diberi karunia oleh Allah untuk mengetahui hikmah tersebut maka ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak.
Sayyidina Ali karromallahu wajhah, pernah berkata “Barang siapa yang keluar dari rumahnya untuk membeli qurban, maka setiap langkahnya akan mendapat sepeluh kebaikan dan menghapus sepuluh kejelekan dan diangkatnya derajatnya sepuluh kali lipat dan apabila pada waktu membeli berbicara maka pembicaraannya dan apabila membayar harganya maka satu dirham mendapat tujuh ratus kebaikan, dan apabila meletakkan qurban tersebut ketanah untuk disembelih,maka semua makhluk ditempat itu sampai kebumi yang ketujuh akan membacakan istighfar kepadanya dan apabila ia mengalirkan darhnya, maka setiap tetas darah Allah jadikan malaikat yang memintakan ampun kepadanya sampai hari kiamat, dan apabila dagingnya dibagi bagikan maka setiap satu suap seperti memerdekakakan budak dari anak buahnya Nabi Ismail as”.
Selama ini, secara konseptual yang beredar, selalu sepakat adanyak praktek berkurban adalah diilhami atas prilaku Nabi Ibrahim as yang dibilang sangar dramatis. Beliau membuktikan rasa cinta dan kesetiaan dengan mengorbankan Islam puteranya yang disayangi melebihi segalanya. Pada titik itulah puncak penyerahan jiwa tertinggi yang kadang kala sulit untuk diilustrasikan dengan kalimat sampai kemudian ternyata disembelih Ibrahim as seekor domba.
Domba hanyalah sebagai badal (pengganti) dari pengorbanan, dan paling tidak domba merupakan suatu yang sedikit lebih banyak bernilai bagi siapapun. Tidak hanya domba, justru yang tak kalah tinggi harganya adalah sapi atau bahkan unta, keduanya sama-sama terbilang hewan qurban, dengan kata lain semakin tinggi nilai qurban yang dikelurkan maka semakin besar perngorbanan atas nama Tuhan, karena pada dasarnya mempersembakan qurban berarti sama dengan mempersembahkan suatu untuk dirinya sendiri maka jelas dengan ini semakin tinggi bukti ketaatannya, terhadap agama dan terhadap Tuhannya.
Memang saat ini sepintas seorang yang mengelurakan qurban memang selalu bertujuan membagikan daging sembelihannya kepada orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. Kaitannya dengan konteks diatas adalah bahwa terdapat pengertian serupa antara praktik qurban dengan realisasi zakat, yakni membagikan atau memberi harta benda kepada orang lain, akan tetapi dalam ruang yang lain terdapat ganjaran besar yang akan kemabali pada dirinya sendiri.
Setiap ibadah yang terkandung dalam islam dituntut tidak hanya bersifat ritual belaka tanpa adanya efek terhadap hal lain diluar ritual tersebut, misalkan sholat, bagaimana mungkin nilai dan hikmah yang ada dalam sholat bias dipraktekkean diluar sholat, atau juga puasa. Esensi puasa diharapkan bisa menjadi inspirasi terhadap prilaku kehidupan manusia dengan yang lainnya, begitu juga dengan qurban.
Islam bukan saja menghubungkan antra manusia dengan Tuhannya, namun juga mengatur keterikatan hubungan antara manusia berbuat baik kepada orang lain. Prilaku mengindahkan nilai keislaman sebagai bentuk kepatuhan terhadap agama menjadi hal yang terpenting dalam kehidupan manusia sebagai seorang kholifah dan hamba dimuka bumi.
Praktik qurban yang banyak kita temukan dikalangan masyrakat saat ini terkandung keuntungan timbal balik (fitback), berupa kandungan ibadah secara personal kepada Tuhan atas persembahannya. Kemudian juga adanya kandungan nilai sosial yang tentu saja lebih tampak sebagai saling berbagi antara sesama demi kelangsungan hidup yang utuh.
Kesimpulannya antara ibadah vertikal dan horizontal dalam realisasi qurban ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan begitu saja atau paling tidak keduanya pada akhirnya realisasi qurban sebagai bentuk ”kesalehan ritual dan kesalehan sosial”
Ditengah kondisi bangsa dan masyrakat seperti sekarang sepatutnyalah keasadaran ini harus dipupuk agar kehidupan agama benar-benar mempuyai peran signifikan dan merekontruksi bangunan kehidupan masyrakat. Amiin………