
Sosoknya
adalah sosok yang penuh cinta, kelembutan dan pribadi yang begitu
memesona. Jilbab dan gaun gamis yang dikenakan memancarkan sosok
muslimah yang ideal dan seorang ibu yang berwibawa. Pada setiap
pertemuan, dia tidak akan pernah lupa untuk membuatkan kue. Kue
sederhana namun sangat dinanti oleh semua rekan – rekan. Usia kami
hampir sama, dan dia sudah memiliki seorang putera. Suaminya bekerja
sebagai pegawai biasa, namun dukungan dari ibu mertua sangat membantu
mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beruntunglah, mertuanya sangat
baik dan cuckup berada. Mereka bisa tinggal di rumah milik ibu dari
suaminya.
Setelah hampir satu tahun tidak mengadakan kontak, kami berjanji
untuk bertemu. Dia akan mengadakan survei dan sekaligus bersilaturahmi.
Dia duduk di hadapan saya. Senyumnya ramah, tutur katanya halus. Masih
seperti dulu. Namun, ada satu yang berubah saat ini. Dia tidak
menggunakan gamis seperti biasanya. Dia masih berjilbab, namun untuk
ukuran dia yang selama ini saya kenal, saya merasa dia telah berubah.
Ups! Saya mencoba menepis prasangka buruk ini. Saya tidak berhak untuk
menilai, terlebih sekehendak hati.
“Hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya bekerja untuk anak-anak. Mas
tidak bisa menafkahi kami dengan cukup..” Saya sudah bisa menduga
alasannya. Namun ada penolakan yang dahsyat pada benak saya. Tadinya
saya berfikir dia bekerja di sebuah lembaga riset, karena dia mengatakan
akan mengadakan survei atau jajak pendapat terhadap saya.
Namun ternyata, kenapa harus bekerja pada lembaga ini, yang
jelas–jelas menjalankan usaha riba? Pertanyaan itu hanya tercekat di
kerongkongan.
Sekarang dia meminta saya untuk menjadi nasabahnya, dia sangat piawai
menjelaskan segala keunggulan produknya. “Mbak, secara pribadi sebagai
manusia normal, saya tentu ingin mendapatkan produk yang mbak tawarkan
karena pendapatan yang akan saya terima sungguh luar biasa. Namun, saya
tidak bisa menerimanya, karena ini mengandung unsur riba, mbak lebih
faham tentunya” saya berusaha memberikan penjelasan tentang penolakan
saya secara baik. Saya berharap, dia akan tersadar dengan segala ilmu
agama yang pernah dipelajarinya.
Doktrin tentang keunggulan produk dan pembelaan dan sangkalan tentang
penjelasan saya membuat saya semakin sedih. Saya terluka, saya merasa
kehilangan dia..
Sebagai wanita yang juga bekerja, saya sungguh memahami motivasinya
untuk membantu ekonomi keluarga. Saya juga mengerti akan kesulitannya.
Namun, saya tidak berharap dia untuk seperti ini. Penghasilannya sudah
mencapai 20 juta rupiah perbulan, semakin aktif membangun jejaring
bisnis, mencari teman baru karena target yang dikejar semakin tinggi.
Sementara dia aktif membangun mimpi, anaknya berdua dengan sang bapak,
di rumah..ya berdua saja.
Saya merasa sakit, sedih, dan marah. Saya sungguh tak berdaya
mengejarnya, saya tak sanggup untuk membuatnya kembali seperti dulu,
seorang wanita sederhana yang menyejukan mata. Saya ingin merengkuhnya,
memasukkan kembali ke dalam kenangan masa lalu yang terpatri di benak.
Maafkan kami ya Rabb, atas segala kelemahan diri.
Nenda_2001@yahoo.com