Selasa, 24 Februari 2015

Pesantren Didatangi Macan !


Hasil gambar untuk gambar macan kurusKalau bulan Ramadhan kemaren hari istimewa bagi warga Bangkalan khususnya, karena merupakan Haulnya Syaikhona Kholil. Syaikhona Kholil yang merupakan Kiai dari Kiai-kiai besar di Indonesia ini memiliki berbagai karomah. Dan di bulan Syawal seperti saat ini, ada sebuah kisah tentang karomah beliau yang penuh makna.


Pada suatu hari di bulan Syawal, Kiai Kholil memanggil para santrinya:
“Anak-anakku sejak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok kita ini,” kata Kiai Kholil agak serius.
Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri bergegas mempersiapkan diri. Waktu itu, sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditunggu-tunggu belum tampak juga.
Baru setelah memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren seorang pemuda kurus. Tidak seberapa tingginya, berkulit kuning langsat sambil menenteng koper seng. Sesampainya  di depan pintu Kiai Kholil pemuda tadi memberi salam dengan suara agak pelan dan sopan, “Assalamu’alaikum.”
Mendengar  salam itu bukan jawaban salam yang diterima tetapi Kiai Kholil malah berteriak memanggil  santrinya.
“Hei….Santri semua, ada macan, ada macan, ayo kita kepung,” seru Kiai Kholil bak seorang komandan di medan perang. Mendengar teriakan kiai, kontan saja semua santri berhamburan. Mereka datang sambil membawa apa yang ada seperti pedang, celurit, tongkat, dan pacul.
Melihat situasi yang tidak menguntungkan, pemuda yang mulai nampak kelihatan pucat ini mundur perlahan. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah mencari keselamatan. Setelah cukup lama bersembunyi, karena tekad ingin nyantri ke Kiai Kholil begitu menggelora maka dicobanya sekali lagi. Begitu memasuki gerbang pesantren, lagi-lagi diusir ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya.
Baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang menyerah ini memasuki pesantren secara diam-diam. Karena lelahnya sang pemuda, mungkin disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau.
Pada tengah malam, secara tidak diduga Kiai Kholil datang dan membangunkannya. Pemuda tadi dibawa ke rumah Kiai. Pemuda itu baru merasa lega setelah resmi diterima menjadi santri, meskipun lewat basa-basi dengan seribu alasan. Kelak kemudian hari, santri yang di isyaratkan macan itu dikenal dengan Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Seorang kiai yang sangat alim dan piawai dalam berdebat. Profilnya berwibawa dan kehadirannya selalu disegani kawan maupun lawan. Sungguh bagaikan seekor macan seperti yang diisyaratkan oleh Kiai Kholil.
Catatan dalam buku Biografi dan Karomah Kiai Kholil Bangkalan oleh Saifur Rachman:
Isyarat merupakan kenyataan masa depan. Sang guru sedang menguji tekad murid. Dengan ujian kita dapat mengetahui siapa kita sebenarnya. Hanya penempuh yang sungguh-sungguh yang dapat menggapai kebenaran dan kemuliaan. Memang memerlukan sedikit kesabaran. Tapi, Wahab Hasbullah mewarisi sifat itu. Sebuah tekad telah dibangun. Memang hanya tekad dan kesabaran yang dapat mengantarkan dirinya menjadi manusia sejati. Kiai Kholil tahu itu semua. Itulah sebabnya beliau menyambut pewaris kebenaran. Welcome, Tiger !                       
Sumber : Biografi dan Karomah Kiai Kholil Bangkalan

Minggu, 22 Februari 2015

Tasbih Fatimah


Suatu hari Sayyidina Ali melihat Sayyidah Fatimah kepayahan menumbuk gandum, mengerjakan pekerjaan rumahnya sambil memomong Hasan dan Husain yang masih kecil.  Ali melihat tangannya luka-luka karena pekerjaan yang begitu berat. Beliau selanjutnya mengusulkan untuk memohon bantuan Rasulullah dengan meminjamkan tawanan/sahaya untuk membantu Fatimah.

Fatimah malu untuk melakukan itu dan akhirnya Sayyidina Ali menyampaikannya sendiri. Namun Rasulullah yang terharu dengan penderitaan putri tercintanya tak dapat mengabulkan permohonan Sayyidah Fatimah. Ali pulang dengan tangan hampa.

Malam hari menjelang tidur Baginda Rasul SAW menyambangi rumah Ahlul Bayt ini dan bersabda kepada Fatimah. “Hai Fatimah, inginkah engkau kuberi sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang engkau minta hari ini?”

Tentu saja Sayyidatun Nisa I’ll ‘Alamin ini mengiyakan. Rasul selanjutnya bersabda, “yaitu engkau membaca ‘Allahu Akbar‘ 34x, ‘Alhamdulillah‘ 33x dan ‘Subhanallah‘ 33x, sebelum tidur dan sesudah salat.”

Wirid di atas selanjutnya disebut ‘Tasbih Fatimah‘.

Parian Pantun Nasehat


================================
Rambut dikuncir sambil memakai pita
Pita yang bagus merah mudawarnanya
Begitu banyak nikmat yang diberikan kepada kita
Janganlah lupa untuk selalu mensyukurinya
================================
Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
================================
Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah
================================
Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
================================
Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
================================
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
================================
Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
================================
Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah
================================

Sabtu, 21 Februari 2015

Pantun Jenaka

Loncat Kepiring 
Ikan gabus di rawa-rawa
Ikan belut nyangkut di jaring
Perutku sakit menahan tawa
Gigi palsu loncat ke piring  


Dicontreng 
Masak rempah harus dikukus
Nasi goreng pakailah saos
Jikalau nikah dengan politikus

Cuma dicontreng tiada dicoblos 

Mau Kawin 
Boleh seberang ketengah pulau
Kapal bercadik terbawa angin
Hati bimbang ditanah rantau
Mendengar adik mau kawin


Burung Dara 
Burung dara pakai rok mini
Kuda belang memakai jengki
Sudah lama duduk menanti
Belum juga keluar kopi
 

Dibalik BH 
Ada apa dibalik meja
Kucing makan si ikan peda
Ada apa dibalik beha
Gunung emas terpisah dua

Kain Batik 
Apa guna berkain batik
Kalau tidak pakai kebaya
Apa guna beristri cantik
Kalau hatinya bercabang dua
 

Humor Belaka 
Pantun ini humor belaka
Untuk sekedar pelipur lara
Jika ada kata yang salah
Baik maafkan dengan segera



Baginda Harun Ar--Rosyid menginginkan Mahkota Surga


Baginda Minta Mahkota dari Sorga - Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak. Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah.


Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ. Ia bertanya kepada ulama itu. "Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?"

Ulama itu berpikir sejenak kemudian Ia berkata, "Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. Ia juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. Ia merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilingi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"

Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking indahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya.

Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana. Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas dipanggil: 

"Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?"
"Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu.
"Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu sarat yang akan hamba ajukan."
"Sebutkan sarat itu." kata Baginda Raja.
"Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat." jawab Abu Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu. "Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat.
 
Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota di surga, maka dunia harus kiamat terlebih dahulu." Mendengar penjelasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam. Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi,
 
"Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?" Baginda Raja tidak menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya. 

Abu Nawas dan Raja Harun Ar-Rosyid


Menipu Raja Harun Al Rasyid - Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.

“Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu.”
“Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak.”
“Apa?”
“Raja kujadikan budak!”
“Kenapa kau lakukan itu suamiku.”
“Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara.”
“Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu.”
“Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku.”
“Pasti kau akan dihukum berat.”
“Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,”
Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.
Tidak berapa lama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.
“Ada apa?” tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.
“Huuuuuu …. suamiku mati….!”
“Hah! Abu Nawas mati?”
“lyaaaa….!”

Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.

Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.

Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja merasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.

“Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?”
“Ada Paduka yang mulia.” kata istri Abu Nawas sambil menangis.
“Katakanlah.” kata Baginda Raja.
“Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat.” kata istri Abu Nawas terbata-bata.
“Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas.” kata Baginda Raja menyanggupi.

Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata, “Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya.”
Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, “Syukuuuuuuuur …… !”

Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder juga.
“Kau… kau…. sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?” tanya Baginda dengan gemetar.

“Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku.”
“Jadi kau masih hidup?”
“Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang.”
“Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?
“Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia…”
“Ajarkan ilmu itu kepadaku…”
“Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri.”
“Dasar pelit !” Baginda menggerutu kecewa.

Jumat, 20 Februari 2015

“ Dosen VS Mahasiswa ”


Di suatu kelas ada dosen yg ajukan pertanyaan kemahasiswanya.
D : Apa ada yg dulu tengok Tuhan?
M : (diam seluruh)
D : Apa ada yg dulu mendengar nada Tuhan?
M : (diam seluruh)
D : Apa ada yg dulu menyentuh Tuhan?
M : (diam seluruh)
D : Kesimpulannya artinya Tuhan itu ga ada.
(dosen lalu gembira)
Tiba " ada mahasiswa yg tidak terima serta membalasnya.
M : Apa ada yg dulu tengok otaknya dosen?
(diam seluruh)
M : Apa ada yg dulu mendenga nada otaknya dosen!
(diam seluruh)
M : Apa ada yg dulu menyentuh otaknya dosen?
(diam seluruh)
M : Kesimpulannya artinya dosen itu tak punyai otak.
Seluruh mahasiswa lalu bersorak gembira...