Senin, 13 April 2015
Kisah Cinta Bersemi dan Pudar
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Orang Sholih pun dapat Cobaan
المصائب والابتلاء يُصيب الأنبياء والصالحين ولا ينقص من حسناتهم ولا يدل على أن أذكارهم لم تُقبل، بل إن ذلك لرفع درجاتهم ومُضاعفة جزائهم.
Musibah dan cobaan juga menimpa para Nabi dan orang-orang shalih. Namun itu tidak membuat kebaikan mereka berkurang. Dan juga tidak menunjukkan bahwa dzikir-dzikir mereka tidak diterima. Justru musibah tersebut mengangkat derajat mereka dan melipat-gandakan ganjaran untuk mereka
— Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah
Minggu, 12 April 2015
Ingin Taubat?
Pada suatu senja yang sepi, terlihat ada seorang wanita yang berjalan
dengan terhutung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan kalau
dia berada dalam duka yang sangat mendalam. Kerudungnya menangkup hampir
seluruh wajahnya.
Kulitnya bersih, badan yang semampai serta raut wajahnya yang cantik, tidak dapat menghapus kesan duka yang tengah dia hadapi. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman Nabiyullah Musa as.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam, dan terdengarlah ucapan salam balasan dari dalam rumah serta mempersilahkan masuk.
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil menundukkan kepalanya. Air matanya mengalir terus tiada henti-hentinya dan berkata kepada Nabi Musa as,
"Wahai Nabiyullah, tolonglah saya, tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya," kata wanita cantik itu.
"Apakah dosa yang telah engkau lakukan wahai wanita?" tanya Nabi Musa as terkejut.
"Wahai Nabiyullah, saya takut mengatakannya," jawab wanita cantik itu.
"Katakanlah, jangan ragu-ragu," ujar Nabi Musa as.
Maka, perempuan itu pun dengan nada terpatah bercerita,
"Saya...saya...telah berzina."
Mendengar pengakuan wanita cantik itu, Nabi Musa as mengangkat kepala, hatinya tersentak kaget. Wanita cantik itu kemudian meneruskan pengakuannya.
"Akibatnya saya hamil, setelah anak itu lahir, langsung saya...cekik lehernya sampai tewas," ucap wanita cantik itu seraya menangis sejadi-jadinya.
Dengan mata yang berapi-api, Nabi Musa mengusir wanita itu.
"Wahai perempuan, enyahlah engkau dari sini agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu itu," usir Nabi Musa as.
Wanita cantik itu makin hancur lebur hatinya.
Dengan segera ia bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Nabi Musa as.
Sepanjang perjalanan dia menangis, air matanya tak bisa berhenti barang sebentar saja. Dai sangat menyesal dan sungguh-sungguh ingin bertobat.
Ia tidak tahu lagi harus kemana hendak mengadu. Langkahnya gontai tak tentu arah.
Wanita cantik ini dalam hati yakin, tidak ada lagi manusia yang dapat membantunya untuk bertobat.
Dalam langkah perlahan dan sambil menangis dia berguman dalam hati,
"Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, mana mungkin manusia lain menerimanya?"
Terbayang langsung olehnya betapa besar dosa yang telah dia lakukan.
Dia merasa dosanya seperti bumi dan langit bergabung menjadi satu, betapa jahat sekali perbuatan yang telah dia perbuat.
Di lain tempat, di kediaman Nabi Musa as, Malaikat Jibril turun dan mendatangi Nabi Musa as.
Malaikat Jibril bertanya,
"Wahai Nabi Musa as, mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya."
Nabi Musa as langsung terperanjat kaget mendengar penuturan Malikat Jibril.
"Dosa apakah yang lebih besar daripada kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" tanya Nabi Musa as.
Dengan rasa ingin tahu, Nabi Musa as bertanya kepada Malaikat Jibril,
"Benarkah ada dosa yang lebish besar daripada perempuan nista itu?"
"Ada," jawab Malaikat Jibril.
"Dosa apakah itu?" tanya Nabi Musa as dengan penasaran.
"Dosa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina."
Mendengar penjelasan Malaikat Jibril tersebut, Nabi Musa as kemudian mencari wanita yang baru diusirnya. Setelah agak lama mencari, akhirnya Nabi Musa melihat wanita yang berjalan gontai sambil menundukkan kepala serta menangis tersebut.
Nabi Musa as berkata, "Wahai wanita, aku akan memohonkan ampun atas perbuatanmu kepada Allah SWT." Nabi Musa as mengangkat tangan di jalan itu juga dengan khusyuknya beliau berdoa untuk memohonkan ampunan kepada Allah SWT untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa as berpesan kepada wanita cantik itu agar selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Nabi Musa as menyadari bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa penyesalan, itu sama saja dengan berpendapat bahwa shalat itu tidak wajib dan tidak perlu.
Hal tersebut berarti orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa penyesalan seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak memiliki HAK untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
Sedangkan orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh, seperti wanita itu, berarti masih mempunyai iman di dalam dadanya
Kulitnya bersih, badan yang semampai serta raut wajahnya yang cantik, tidak dapat menghapus kesan duka yang tengah dia hadapi. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman Nabiyullah Musa as.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam, dan terdengarlah ucapan salam balasan dari dalam rumah serta mempersilahkan masuk.
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil menundukkan kepalanya. Air matanya mengalir terus tiada henti-hentinya dan berkata kepada Nabi Musa as,
"Wahai Nabiyullah, tolonglah saya, tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya," kata wanita cantik itu.
"Apakah dosa yang telah engkau lakukan wahai wanita?" tanya Nabi Musa as terkejut.
"Wahai Nabiyullah, saya takut mengatakannya," jawab wanita cantik itu.
"Katakanlah, jangan ragu-ragu," ujar Nabi Musa as.
Maka, perempuan itu pun dengan nada terpatah bercerita,
"Saya...saya...telah berzina."
Mendengar pengakuan wanita cantik itu, Nabi Musa as mengangkat kepala, hatinya tersentak kaget. Wanita cantik itu kemudian meneruskan pengakuannya.
"Akibatnya saya hamil, setelah anak itu lahir, langsung saya...cekik lehernya sampai tewas," ucap wanita cantik itu seraya menangis sejadi-jadinya.
Dengan mata yang berapi-api, Nabi Musa mengusir wanita itu.
"Wahai perempuan, enyahlah engkau dari sini agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu itu," usir Nabi Musa as.
Wanita cantik itu makin hancur lebur hatinya.
Dengan segera ia bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Nabi Musa as.
Sepanjang perjalanan dia menangis, air matanya tak bisa berhenti barang sebentar saja. Dai sangat menyesal dan sungguh-sungguh ingin bertobat.
Ia tidak tahu lagi harus kemana hendak mengadu. Langkahnya gontai tak tentu arah.
Wanita cantik ini dalam hati yakin, tidak ada lagi manusia yang dapat membantunya untuk bertobat.
Dalam langkah perlahan dan sambil menangis dia berguman dalam hati,
"Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, mana mungkin manusia lain menerimanya?"
Terbayang langsung olehnya betapa besar dosa yang telah dia lakukan.
Dia merasa dosanya seperti bumi dan langit bergabung menjadi satu, betapa jahat sekali perbuatan yang telah dia perbuat.
Di lain tempat, di kediaman Nabi Musa as, Malaikat Jibril turun dan mendatangi Nabi Musa as.
Malaikat Jibril bertanya,
"Wahai Nabi Musa as, mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya."
Nabi Musa as langsung terperanjat kaget mendengar penuturan Malikat Jibril.
"Dosa apakah yang lebih besar daripada kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" tanya Nabi Musa as.
Dengan rasa ingin tahu, Nabi Musa as bertanya kepada Malaikat Jibril,
"Benarkah ada dosa yang lebish besar daripada perempuan nista itu?"
"Ada," jawab Malaikat Jibril.
"Dosa apakah itu?" tanya Nabi Musa as dengan penasaran.
"Dosa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina."
Mendengar penjelasan Malaikat Jibril tersebut, Nabi Musa as kemudian mencari wanita yang baru diusirnya. Setelah agak lama mencari, akhirnya Nabi Musa melihat wanita yang berjalan gontai sambil menundukkan kepala serta menangis tersebut.
Nabi Musa as berkata, "Wahai wanita, aku akan memohonkan ampun atas perbuatanmu kepada Allah SWT." Nabi Musa as mengangkat tangan di jalan itu juga dengan khusyuknya beliau berdoa untuk memohonkan ampunan kepada Allah SWT untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa as berpesan kepada wanita cantik itu agar selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Nabi Musa as menyadari bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa penyesalan, itu sama saja dengan berpendapat bahwa shalat itu tidak wajib dan tidak perlu.
Hal tersebut berarti orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa penyesalan seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak memiliki HAK untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
Sedangkan orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh, seperti wanita itu, berarti masih mempunyai iman di dalam dadanya
Enggan Zakat di Telan Bumi
Kisah Qarun bin Yashar bin Qahit dan hartanya yang ditelan bumi ini diabadikan dalam Al Qur'an untuk menjadi pelajaran bagi umat islam dan bahkan umat yang lain.
Allah SWT berfirman,
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Artinya:
"Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)."
Dikisahkan bahwa pada mulanya Qarun ini hanya manusia yang miskin. Ia bekerja sebagai pegawai kerajaan yang dipimpin oleh Raja Fir'aun. Namun demikian, Qarun termasuk orang yang licik dan munafik. Di depan Raja Fir'aun, ia menyatakan pengabdiannya, namun di depan Nabi Musa a.s ia menyatakan beriman kepada Allah SWT.
Pada suatu kesempatan, ia meminta Nabi Musa untuk mendoakannya kepada Allah SWT agar ia diberi kekayaan. Permintaan tersebut akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam waktu yang singkat, Qarun menjadi kaya raya. Dia memiliki ribuan gudang harta berisikan emas dan perak. Qarun sangat kaya sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar.
Suatu ketika, Nabi Musa a.s mendapat perintah dari Allah SWT agar orang-orang kaya yang ada di Mesir membayar zakat. Karena sejak lama Qarun menyatakan beriman, maka Musa pun menyampaikan perintah Allah tersebut kepadanya.
Qarun menanggapi aturan zakat itu dengan sinis dan dingin.
Bahkan ia mencoba untuk berkolusi dengan Nabi Musa.
"Aku mau membayar zakat, tetapi 1 dinar untuk 1.000 dinar dari hartaku, bagaiamana?" kata Qarun menawarkan kepada Nabi Musa.
"Aku tidak boleh mengambil keputusan di luar ketentuan Allah SWT. Sebagaimana telah aku sampaikan sebelumnya kepadamu, bahwa Allah mewajibkan kepada kita untuk membayar zakat seperempat dari seluruh harta yang dimiliki," kata Nabi Musa.
"Apa-apaan ini, kalau seperempat dari harta yang ada, alangkah besarnya," keluh Qarun.
Secara tegas, Qarun pun menolak peraturan itu. Semenjak itu, permusuhan Qarun dengan Nabi Musa a.s. mulai muncul ke permukaan. Qarun mulai terang-terangan mengajak orang-orang kafir untuk membangkang dan memusuhi Nabi Musa dan pengikutnya.
Bahkan tidak hanya itu, Qarun sengaja menciptakan fitnah kepada Nabi Musa. Ia membayar mahal seorang wanita untuk mengaku pernah berzina dengan Nabi Musa. Mengetahui dirinya diftnah, Nabi Musa ingin menayakan langsung kepada si wanita tersebut yang disaksikan oleh orang banyak.
"Demi Allah yang telah menciptakanku, katakan yang sebenarnya, apakah aku pernah berzina denganmu?" tanya Nabi Musa.
"Wahai Musa, demi kebenaran, maka akau akan menjawabnya secara jujur. Sesungguhnya tuduhan itu tidak benar. Beberapa waktu yang lalu, Qarun telah mengajakku mengakui bahwa engkau pernah berzina denganku sampai hamil. Lalu dia menjanjikan untuk imbalan seribu dirham. Setelah aku pikir, maka aku lebih memilih takut kepada Allah SWT daripada menuduh utusan-Nya berbuat zina," kata wanita itu.
Nabi Musa terharu mendengar pengakuan wanita itu. Ternyata masih ada wanita malam yang berhati jujur dan takut kepada Allah SWT. Ia lalu langsung sujud syukur kepada Allah SWT yang telah menolongnya dari permainan Qarun yang curang dan buruk itu.
Nabi Musa a.s. berdiri kembali.
Ia berkata kepada orang-orang yang ada di sana untuk terus beriman kepada Allah SWT.
"Wahai Bani Israil, barang siapa yang mendukung Qarun, maka tetaplah di sini. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT maka marilah pergi dari sini untuk mengikutiku," kata Nabi Musa a.s.
Sebagian orang yang menjadi pengikut Qarun masih tetap bertahan di tempat itu.
Sedangkan Musa dan para pengikutnya pergi meninggalkan mereka. Sesaat setelah meninggalkan mereka, Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT agar bumi menelan Qarun dan pengikutnya.
Seketika itu juga bumi menjadi terbelah. Tanah tempat berpijak Qarun dan pengikutnya menelan mereka sampai ke dasar bumi.
Sabtu, 11 April 2015
Nasehat Pagi
Dengan ilmu segala sesuatu diukur, diketahui halal dan haram, dipahami hukum-hukum syariat, dan dibedakan kebenaran dan kebatilan, serta jalan petunjuk dan kesesatan. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam senantiasa berdoa di pagi hari setelah subuh :
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا صَالِحًا»
“Ya Allah, Aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal shalih yang diterima” (HR Ahmad)Doa ini dimulai dengan meminta ilmu yang bermanfaat. Karena dengannya seorang hamba bisa membedakan antara rezeki yang baik dan buruk, dan antara amal shalih dan amal kejelekan.
Adapun jika seorang hamba tidak memilik ilmu yang bermanfaat, bagaimana dia bisa membedakan halal dan haram, perkara baik dan buruk, serta amalan kebaikan dan kejelekan?
Lapar itu banyak Fadhilahnya
Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ rahimahullah bahwa dia berkata, “Siapa yang sedikit makannya dia akan bisa memahami, membuat orang lain paham, bersih, dan lembut. Sungguh, banyak makan akan memberati seseorang dari hal-hal yang dia inginkan.”
Diriwayatkan dari Utsman bin Zaidah rahimahullah, dia berkata bahwa Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengirim surat kepadanya (diantara isinya), “Apabila engkau ingin tubuhmu sehat dan tidurmu sedikit, kurangilah makan.”
Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, “Siapa yang menjaga perutnya, dia bisa menjaga agamanya. Siapa yang bisa mengurangi rasa laparnya, dia akan menguasai akhlak yang terpuji. Sungguh, kemaksiatan akan jauh dari orang yang lapar, dekat dengan orang yang kenyang. Rasa kenyang akan mematikan hati. Akan muncul pula darinya rasa senang, sombong, dan tawa.”
Diriwayatkan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah, “Jika jiwa merasakan lapar dan dahaga, kalbu akan bersih dan lembut. Jika jiwa merasakan kenyang dan puas minum, kalbu menjadi buta.”
Diriwayatkan pula dari asy-Syafi’i rahimahullah, “… Rasa kenyang akan memberati badan, menghilangkan kewaspadaan, mendatangkan rasa kantuk, dan melemahkan pemiliknya dari beribadah.”
Nasi Bungkus
Seorang Pasien RS Jiwa
membeli makanan di KFC. Dia pun
berkata kepada pelayan yang cantik.
Pembeli : Mbak, nasi ayam 1 porsi
dibungkus ya...
Pelayan : Iya Mas...
Pembeli : Tapi tolong nasi dan
ayamnya dipisah ya Mbak..
Pelayan : Kenapa Mas...?
Pembeli : Takut nasinya dimakan
ayam...
Langganan:
Postingan (Atom)