Segenap pengurus Yayasan Al-Jazirah, civitas akademik Al-Jazirah education, dan pengasuh Al-Jazirah mengucapkan :
SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1435 HIJRIYAH
Semoga iman dan amal kita selalu meningkat dan makbul disisi ALLOH swt.
Semoga Bapak/Ibu, Saudara/i mendapat barokah dari perubahan tahun islam ini yakni hijrah dari yang tidak baik kepada yang baik, dari yang lemah menjadi semangat, dari yang biasa-biasa menjadi luar biasa. amien...
Senin, 04 November 2013
Suasana Cuaca di Surga
Di Surga tidak ada terik matahari yang menyengat dan salju yang
sangat dingin. Cuacanya cerah menerangi penghuninya, dengan suasana yang
sangat menghanyutkan perasaan dan tiada bandingannya, tidak mungkin
untuk dapat diungkapkan dengan kata kata, kecuali kalau kita sudah
mengalaminya.
Di dunia, dalam satu tahun, hari demi hari berganti, dengan cuaca dan udara yang silih berganti, ada saatnya kita merasakan nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada pagi hari. Sedangkan di Surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan kesenangan di Surga.
Allah SWT berfirman,
Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah mudahnya untuk memetik buahnya (QS Al Insan 11-14)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “ La yaraunaa fiha syamsan wala zamharina,” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik atau dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, suasana di Surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas, Allah SWT menyebutkan, “ La yarauna fiha syamsan wala zamharina,” juga firman Allah “Wadaniyatan alaihim zhilaluha.” Naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di Surga menjadi sangat menyenangkan. Wallahu alam.
Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadis dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah SAW menjwab,”Apa yang telah kamu siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab,”Aku mendengar Allah berfirman, “ Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang (Maryam 62), aku (Perawi Hadist) berkata, “ Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah SAW bersabda,” Di Surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat saat untuk salat. Pada saat itulah mereka menunaikan salat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka. (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id Az Zuhd)
Di Surga tidak ada terik matahari yang menyengat dan salju yang sangat dingin. Cuacanya cerah menerangi penghuninya, dengan suasana yang sangat menghanyutkan perasaan dan tiada bandingannya, tidak mungkin untuk dapat diungkapkan dengan kata kata, kecuali kalau kita sudah mengalaminya.
Di dunia, dalam satu tahun, hari demi hari berganti, dengan cuaca dan udara yang silih berganti, ada saatnya kita merasakan nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada pagi hari. Sedangkan di Surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan kesenangan di Surga.
Allah SWT berfirman,
"Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah mudahnya untuk memetik buahnya (QS Al Insan 11-14)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “ La yaraunaa fiha syamsan wala zamharina,” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik atau dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, suasana di Surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas, Allah SWT menyebutkan, “ La yarauna fiha syamsan wala zamharina,” juga firman Allah “Wadaniyatan alaihim zhilaluha.” Naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di Surga menjadi sangat menyenangkan. Wallahu alam.
Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadis dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah SAW menjwab,”Apa yang telah kamu siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab,”Aku mendengar Allah berfirman, “ Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang (Maryam 62), aku (Perawi Hadist) berkata, “ Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah SAW bersabda,” Di Surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat saat untuk salat. Pada saat itulah mereka menunaikan salat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka. (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id Az Zuhd)
Di dunia, dalam satu tahun, hari demi hari berganti, dengan cuaca dan udara yang silih berganti, ada saatnya kita merasakan nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada pagi hari. Sedangkan di Surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan kesenangan di Surga.
Allah SWT berfirman,
Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah mudahnya untuk memetik buahnya (QS Al Insan 11-14)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “ La yaraunaa fiha syamsan wala zamharina,” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik atau dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, suasana di Surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas, Allah SWT menyebutkan, “ La yarauna fiha syamsan wala zamharina,” juga firman Allah “Wadaniyatan alaihim zhilaluha.” Naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di Surga menjadi sangat menyenangkan. Wallahu alam.
Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadis dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah SAW menjwab,”Apa yang telah kamu siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab,”Aku mendengar Allah berfirman, “ Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang (Maryam 62), aku (Perawi Hadist) berkata, “ Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah SAW bersabda,” Di Surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat saat untuk salat. Pada saat itulah mereka menunaikan salat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka. (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id Az Zuhd)
Di Surga tidak ada terik matahari yang menyengat dan salju yang sangat dingin. Cuacanya cerah menerangi penghuninya, dengan suasana yang sangat menghanyutkan perasaan dan tiada bandingannya, tidak mungkin untuk dapat diungkapkan dengan kata kata, kecuali kalau kita sudah mengalaminya.
Di dunia, dalam satu tahun, hari demi hari berganti, dengan cuaca dan udara yang silih berganti, ada saatnya kita merasakan nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada pagi hari. Sedangkan di Surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan kesenangan di Surga.
Allah SWT berfirman,
"Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah mudahnya untuk memetik buahnya (QS Al Insan 11-14)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “ La yaraunaa fiha syamsan wala zamharina,” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik atau dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, suasana di Surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas, Allah SWT menyebutkan, “ La yarauna fiha syamsan wala zamharina,” juga firman Allah “Wadaniyatan alaihim zhilaluha.” Naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di Surga menjadi sangat menyenangkan. Wallahu alam.
Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadis dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah SAW menjwab,”Apa yang telah kamu siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab,”Aku mendengar Allah berfirman, “ Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang (Maryam 62), aku (Perawi Hadist) berkata, “ Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah SAW bersabda,” Di Surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat saat untuk salat. Pada saat itulah mereka menunaikan salat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka. (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id Az Zuhd)
Sejarah penetapan kalender hijriyah
(Arrahmah.com) - Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du. Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal. Mereka juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal. Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji, mereka kenal bulan muharam, safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan. Hanya saja masyarakat jazirah Arab belum memiliki angka tahun. Mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Biasanya, acuan tahun yang mereka gunakan adalah peristiwa terbesar yang terjadi ketika itu. Kita kenal ada istilah tahun gajah, karena pada saat itu terjadi peristiwa besar, serangan pasukan gajah dari Yaman oleh raja Abrahah. Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi perang Fijar. Tahun renovasi Ka’bah, karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan dibangun ulang. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian tokohnya sebagai acuan, semisal; 10 tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai.
Keadaan semacam ini berlangsung terus sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketka itu, para sahabat belum memiliki acuan tahun. Acuan yang mereka gunakan untuk menamakan tahun adalah peristiwa besar yang terjadi ketika itu. Berikut beberapa nama tahun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
1. Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah.
2. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik.
3. Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud.
4. Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum muslimin menghadapi berbagai cobaan ekonomi, keamanan, krisis pangan, karena perang khandaq dan seterusnya. (Arsyif Multaqa Ahlul Hadits, Abdurrahman al-Faqih, 14 Maret 2005)
Sampai akhirnya di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah. Di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah. Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan:
Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat, beliau berkata kepada mereka:
Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain (Mahdhu ash-Shawab, 1:316, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)
Kemudian disebutkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Said bin al-Musayib, beliau menceritakan:
Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muhajirin dan anshar radhiyallahu ‘anhum, beliau bertanya: “Mulai kapan kita menulis tahun.” Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan: “Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik.” Maksud Ali adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).
Mengapa bukan tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi acuan?
Jawabannya disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:
Abu Zinad mengatakan:
Karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya kalender ini dinamakan kalender hijriah.
Setelah mereka sepakat, perhitungan tahun mengacu pada tahun hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka bermusyawarah, bulan apakah yang dijadikan sebagai bulan pertama.
Pada musyawarah tersebut, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah Muharam. Karena beberapa alasan:
a. Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender masyarakat Arab di masa masa silam.
b. Di bulan Muharam, kaum muslimin baru saja menyelesaikan ibadah yang besar yaitu haji ke baitullah.
c. Pertama kali munculnya tekad untuk hijrah terjadi di bulan Muharam. Karena pada bulan sebelumnya, Dzulhijah, beberapa masyarakat Madinah melakukan Baiat Aqabah yang kedua. (Simak keterangan Ibn Hajar dalam Fathul Bari, 7:268). Allahu a’lam
Sabtu, 02 November 2013
KUNJUNGAN PENGAWAS DINAS PENDIDIKAN SAMPANG
Pada hari ini Sabtu 02 November 2013 telah hadir ke Yayasan Al-Jazirah Drs. Junaidi, M.Pd. Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang diterima oleh pengasuh KH. Manshur Abdullah di balai tamu kepengasuhan.
Dalam kesempatan itu disampaikan tentang progres pembangunan gedung SMP Al-Jazirah yang direncanakan lantai 3 dengan dana swadaya dari yayasan, tokoh masyarakat dan orang tua murid, hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan pendidikan di kampung Sumber Penang Gunung Kesan Karangpenang Sampang.
Semoga cepat selesai...
Dalam kesempatan itu disampaikan tentang progres pembangunan gedung SMP Al-Jazirah yang direncanakan lantai 3 dengan dana swadaya dari yayasan, tokoh masyarakat dan orang tua murid, hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan pendidikan di kampung Sumber Penang Gunung Kesan Karangpenang Sampang.
Semoga cepat selesai...
Jumat, 25 Oktober 2013
Dengki, Menjemput Penyakit
by: Echiey Hisaan, Pekanbaru
Pengelola Rumah Tahfidz dan Aktivis
Sebab datangnya dengki sangat banyak dan sangat cepat merasuki jiwa seseorang. jika ia mampu cepat-cepat mengusirnya, selamatlah ia dari akibat yang di timbulkan oleh dengki, namun jika ia menerima serangan dengki itu ke dalam hatinya, jadilah akibat yang panjang bagi dirinya sendiri.
Di antara akibat yang panjang dari membiarkan masuknya dengki ke dalam hati adalah:
- Tidak bisa tenang jika melihat yang di dengki lewat atau mendengar berita baik tentang nya, tekanan darah jadi tidak stabil, nafas lebih kencang, dan hasrat ingin menggunjingnya jadi meningkat.
- Waktu yang ada di hari-hari jadi tersita dan pikiran terbagi karena selalu memikirkan tentang perkembangan terbaru orang yang di dengki.
- Pahala dari amalan-amalan baik yang telah di buat jadi terkikis seiring lamanya proses dengki bersemayam di hati kepada orang lain.
- Tidak bisa tidur malam karna sibuk memikirkan orang yang di dengki, seperti terus bertanya-tanya sendiri “apa maunya? Bagaimana bisa dia begitu? Dasar tidak tahu diri, dan lainnya”.
- Jika sudah sulit tidur malam, biasanya lambung akan terganggu dan akibatnya selera makan juga akan terganggu.
- Jika sudah tidak selera makan, maka asupan gizi untuk tubuh mulai berkurang dan mengganggu sistem peredaran darah dan sistem kerja tubuh.
- Jika sistem tubuh sudah tidak stabil, maka kinerja otak terganggu, kerja jantung terganggu, dan semua organ tubuh ikut terganggu.
- Jika semua organ tubuh sudah terganggu maka datanglah satu persatu penyakit di tubuh.
- Jika sudah sakit, maka harus ke dokter untuk periksa dan tebus resep, bahkan kadang harus bolak-balik berulang kali ke dokter, semuanya menyita waktu dan uang.
Seperti itulah akibat panjang yang di timbulkan oleh dengki jika di biarkan masuk ke dalam hati. Selain merugikan karna menyita banyak waktu, juga menjadikan tubuh yang sehat menjadi sakit. Sebelum virus dengki berkembang lama di dalam hati, segeralah usir dengan cara mengingat keadilan Allah swt, serta beristigfar sebanyak-banyaknya.
Banyak jalan bagi dengki untuk dapat mudah masuk ke dalam hati manusia, virus dengki beterbangan mengintai hati manusia di tiap saat dan di tiap hari. kuncinya adalah syukuri keadaan kehidupan kita dan selalu ingat bahwa semua yang ada pada orang lain adalah juga karunia pemberian atas kebijaksanaan Allah swt.
Semoga bermanfaat ya…
Bahagia Karena Banyak Digunjing
Redaksi – Jumat, 18 Oktober 2013 08:32 WIB
Di gunjing? anda tentu tau apa yang dikatakan dengan di gunjing. Setiap orang sudah mengenal kata ini bahkan sejak ia menginjak bangku SD.
Ya, segala sesuatu yang ada dalam kata di gunjing konotasinya adalah tidak mengenakkan sekali. Kebanyakan dari isinya adalah tentang pendapat dan hal-hal yang tidak di suka oleh objek gunjingan. isu-isu yang sarat dengan kamuflase dan biasanya berakibat merugikan objek gunjingan.
Perbuatan menggunjing ini sudah merata ke setiap kalangan dan jenis kelamin. Dimana-mana orang sadar atau tidak sadar ia pasti pernah ikut terlibat dalam gunjing menggunjing. Dengan cepat dan sigap suara gunjingan menyebar kemana-mana dan bertambah-tambah.
Itulah hebatnya gunjing, semua jadi kreatif olehnya, bumbu-bumbu yang tadinya sedikit menjadi meluas untuk di masak agar nikmat untuk di konsumsi bersama-sama. Indah sekali terasa bagi yang memakannya dan menyakitkan sekali bagi objeknya.
“ wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian banyak prasangka itu dosa. Dan jangalah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima taubat, maha penyayang.” (QS. AL-HUJURAT:12)
Namun tidak berlaku untuk yang merasa dirinya orang beriman dan mukmin sejati. Kenapa demikian, karna ia mengetahui rahasia tersembunyi dari setiap keadaan yang menerpanya.
Sebut sajalah ia sedang menjadi objek gunjingan, panas sekali hatinya mendengar dirinya tengah asyik di perbincangkan dalam skala yang buruk-buruk. Namun apabila ia memang orang yang beriman dan memiliki kecakapan pengetahuan yang luas tentang ilmu agama, maka ia tidak akan terganggu sedikitpun oleh suara-suara yang mempergunjingkannya tersebut.
Ya, orang-orang yang di gunjing mestinya bersyukur dan bertambah bahagia. Apa sebab? Sebab ia tau hakikat dari keadaan di gunjing tersebut. Marilah kita ulas satu persatu dari sekian banyak rahasia kebaikan dari keadaan di gunjing, ada 10 kebaikan padanya, yaitu sebagai berikut:
1) Anda yang di gunjing jadi mendapatkan perhatian lebih dari sebelumnya, karna orang-orang jadi sibuk memperhatikan anda, sehingga andapun jadi lebih memperhatikan sikap anda.
2) Pada dasarnya orang yang sedang ramai di bicarakan, pertanda ia sedang berada di atas, dengan kata lain mereka yang menggunjing menyadari dalam hatinya tentang kelebihan anda yang tidak mereka punya.
3) Anda jadi memiliki penasehat gratis yang suka mengoreksi kekurangan anda, agar anda dapat segera memperbaikinya dan berubah menjadi lebih teliti dan hati-hati. Tanpa anda harus menyewa mahal consultant karakter ataupun psikiater pribadi.
4) Yang tadinya anda tidak tau kekurangan anda, karna memiliki penasehat gratis maka anda jadi menyadari dan akhirnya dapat pelajaran baru untuk mensiasati pribadi anda jadi lebih baik dari sebelumnya, karna setiap kita pasti ada kekurangan.
5) Dalam sebuah hadist, di katakan bahwa mereka yang bergunjing, hakikatnya sedang mengambil dosa-dosa anda, semakin banyak mereka bergunjing tentang anda, semakin banyak pula dosa anda di ambil oleh mereka.
6) Sebaliknya, orang yang sedang di gunjing hakikatnya sedang menerima pasokan pahala dari mereka yang sedang menggunjingnya, dengan kata lain pahala mereka pindah ke orang yang di gunjing.
7) Tabiatnya orang-orang yang suka menggunjing akan saling menggunjing lagi di belakang masing-masing, sehingga tampaklah bagi mereka keburukan mereka masing-masing, dan akhirnya saling tidak mempercayai lagi dan satu persatu bubar, tanpa anda harus bekerja keras untuk balik menyerang kumpulan mereka.
8) Jika anda dapat membuktikan gunjingan mereka salah, maka seketika mereka akan takjub pada anda dan balik saling membela anda satu sama lain, dan tampaklah bagi mereka masing-masing bahwa mereka sama-sama tidak berpendirian yang baik. Sekali lagi tanpa anda harus bekerja keras untuk balik menggunjing mereka.
9) Jika mereka tidak dapat anda perbaiki, diam adalah sikap cerdas dalam menghadapi gunjingan, agar proses transfer pahala dan pemindahan dosa berlangsung dengan sukses.
10) Senyum terima kasih pada mereka setiap bertemu, karna mereka telah memberikan pahala mereka dengan cepat kepada anda. Lagipula tak ada salahnya selalu tebar senyum untuk semakin menambah saldo pahala anda, karna senyum adalah sedekah.
11) Bahagia, karna slama ini anda kurang inisiatif dalam beramal, namun dapat tumpukan pahala dari mana-mana akibat gunjingan yang bahkan anda tidak kenal dengannya, hingga hapus sedikit demi sedikit dari catatan dosa-dosa anda.
Bukankah semua itu baik? Bukankah semua yang tampak menyakitkan dan merugikan ternyata baik akibatnya. Tentunya jika sikap anda tetap baik dan santun dalam fase menjadi objek gunjingan. Namun jika anda balik membalas dan mengajak berkelahi, maka itu semakin memperburuk keadaan anda di mata mereka dan bukan pahala yang di dapat, melainkan menambah kesalahan baru.
Untuk itulah anda di tuntut agar tetap tenang dan bersahaja jika sedang menghadapi gunjingan yang tidak enak, bersabar sedikit demi kebaikan yang banyak. Diam bukanlah tanda kelemahan, mengalah bukanlah tanda penakut, namun karna berilmu maka anda mengambil sikap yang bijak.
Tentunya sikap baik akan menuai hasil yang baik, dan sikap pasif tersebut di pilih semata-mata karna mengharap pahala dan ridha dari Allah swt. Bukankah anda tidak menyengaja merencanakan agar mereka ramai-ramai menggunjing anda sedemikian rupa, agar pahala amalan mereka pindah kepada anda?
Jadi, jangan sedih jika anda sedang menghadapi sebuah gunjingan. Justru berbahagialah karna ada orang-orang yang suka mengambil deretan dosa-dosa anda, dan menggantinya dengan pahala-pahala mereka. Bahkan kalau anda mampu, sediakanlah bagi mereka kado ucapan terima kasih karna telah bersedia mengambil dosa-dosa anda.
Untuk itulah anda semestinya tersenyum dan bahagia jika sedang menjadi objek gunjingan yang tidak mengenakkan. Tidak perlu marah, tidak perlu naik darah. Cukup kelola hati anda agar tetap dingin, dan selalu tersenyum untuk mengikis pandangan sinis orang-orang yang menggunjing anda.
Semestinya kita bersyukur dan semestinya kita bahagia jika ada orang mendzolimi kita. Karna dengan begitulah jalan pintas untuk kita dapat menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kita yang kita ketahui , apalagi untuk kategori dosa-dosa yang kita tidak ketahui bahwa itu adalah dosa. Sehingga tanpa sadar kita berjalan menuju hari tua sudah dalam keadaan berkurangnya jumlah dosa, apalagi sampai terkikis habis dosanya. Bukankah itu keberuntungan? Insya’Allah….
“ wahai orang-orang yang beriman! janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (di olok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan yang (di olok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Jangalah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. AL-HUJURAT:11)
Wallahu’alam….
Ya, segala sesuatu yang ada dalam kata di gunjing konotasinya adalah tidak mengenakkan sekali. Kebanyakan dari isinya adalah tentang pendapat dan hal-hal yang tidak di suka oleh objek gunjingan. isu-isu yang sarat dengan kamuflase dan biasanya berakibat merugikan objek gunjingan.
Perbuatan menggunjing ini sudah merata ke setiap kalangan dan jenis kelamin. Dimana-mana orang sadar atau tidak sadar ia pasti pernah ikut terlibat dalam gunjing menggunjing. Dengan cepat dan sigap suara gunjingan menyebar kemana-mana dan bertambah-tambah.
Itulah hebatnya gunjing, semua jadi kreatif olehnya, bumbu-bumbu yang tadinya sedikit menjadi meluas untuk di masak agar nikmat untuk di konsumsi bersama-sama. Indah sekali terasa bagi yang memakannya dan menyakitkan sekali bagi objeknya.
“ wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian banyak prasangka itu dosa. Dan jangalah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima taubat, maha penyayang.” (QS. AL-HUJURAT:12)
Namun tidak berlaku untuk yang merasa dirinya orang beriman dan mukmin sejati. Kenapa demikian, karna ia mengetahui rahasia tersembunyi dari setiap keadaan yang menerpanya.
Sebut sajalah ia sedang menjadi objek gunjingan, panas sekali hatinya mendengar dirinya tengah asyik di perbincangkan dalam skala yang buruk-buruk. Namun apabila ia memang orang yang beriman dan memiliki kecakapan pengetahuan yang luas tentang ilmu agama, maka ia tidak akan terganggu sedikitpun oleh suara-suara yang mempergunjingkannya tersebut.
Ya, orang-orang yang di gunjing mestinya bersyukur dan bertambah bahagia. Apa sebab? Sebab ia tau hakikat dari keadaan di gunjing tersebut. Marilah kita ulas satu persatu dari sekian banyak rahasia kebaikan dari keadaan di gunjing, ada 10 kebaikan padanya, yaitu sebagai berikut:
1) Anda yang di gunjing jadi mendapatkan perhatian lebih dari sebelumnya, karna orang-orang jadi sibuk memperhatikan anda, sehingga andapun jadi lebih memperhatikan sikap anda.
2) Pada dasarnya orang yang sedang ramai di bicarakan, pertanda ia sedang berada di atas, dengan kata lain mereka yang menggunjing menyadari dalam hatinya tentang kelebihan anda yang tidak mereka punya.
3) Anda jadi memiliki penasehat gratis yang suka mengoreksi kekurangan anda, agar anda dapat segera memperbaikinya dan berubah menjadi lebih teliti dan hati-hati. Tanpa anda harus menyewa mahal consultant karakter ataupun psikiater pribadi.
4) Yang tadinya anda tidak tau kekurangan anda, karna memiliki penasehat gratis maka anda jadi menyadari dan akhirnya dapat pelajaran baru untuk mensiasati pribadi anda jadi lebih baik dari sebelumnya, karna setiap kita pasti ada kekurangan.
5) Dalam sebuah hadist, di katakan bahwa mereka yang bergunjing, hakikatnya sedang mengambil dosa-dosa anda, semakin banyak mereka bergunjing tentang anda, semakin banyak pula dosa anda di ambil oleh mereka.
6) Sebaliknya, orang yang sedang di gunjing hakikatnya sedang menerima pasokan pahala dari mereka yang sedang menggunjingnya, dengan kata lain pahala mereka pindah ke orang yang di gunjing.
7) Tabiatnya orang-orang yang suka menggunjing akan saling menggunjing lagi di belakang masing-masing, sehingga tampaklah bagi mereka keburukan mereka masing-masing, dan akhirnya saling tidak mempercayai lagi dan satu persatu bubar, tanpa anda harus bekerja keras untuk balik menyerang kumpulan mereka.
8) Jika anda dapat membuktikan gunjingan mereka salah, maka seketika mereka akan takjub pada anda dan balik saling membela anda satu sama lain, dan tampaklah bagi mereka masing-masing bahwa mereka sama-sama tidak berpendirian yang baik. Sekali lagi tanpa anda harus bekerja keras untuk balik menggunjing mereka.
9) Jika mereka tidak dapat anda perbaiki, diam adalah sikap cerdas dalam menghadapi gunjingan, agar proses transfer pahala dan pemindahan dosa berlangsung dengan sukses.
10) Senyum terima kasih pada mereka setiap bertemu, karna mereka telah memberikan pahala mereka dengan cepat kepada anda. Lagipula tak ada salahnya selalu tebar senyum untuk semakin menambah saldo pahala anda, karna senyum adalah sedekah.
11) Bahagia, karna slama ini anda kurang inisiatif dalam beramal, namun dapat tumpukan pahala dari mana-mana akibat gunjingan yang bahkan anda tidak kenal dengannya, hingga hapus sedikit demi sedikit dari catatan dosa-dosa anda.
Bukankah semua itu baik? Bukankah semua yang tampak menyakitkan dan merugikan ternyata baik akibatnya. Tentunya jika sikap anda tetap baik dan santun dalam fase menjadi objek gunjingan. Namun jika anda balik membalas dan mengajak berkelahi, maka itu semakin memperburuk keadaan anda di mata mereka dan bukan pahala yang di dapat, melainkan menambah kesalahan baru.
Untuk itulah anda di tuntut agar tetap tenang dan bersahaja jika sedang menghadapi gunjingan yang tidak enak, bersabar sedikit demi kebaikan yang banyak. Diam bukanlah tanda kelemahan, mengalah bukanlah tanda penakut, namun karna berilmu maka anda mengambil sikap yang bijak.
Tentunya sikap baik akan menuai hasil yang baik, dan sikap pasif tersebut di pilih semata-mata karna mengharap pahala dan ridha dari Allah swt. Bukankah anda tidak menyengaja merencanakan agar mereka ramai-ramai menggunjing anda sedemikian rupa, agar pahala amalan mereka pindah kepada anda?
Jadi, jangan sedih jika anda sedang menghadapi sebuah gunjingan. Justru berbahagialah karna ada orang-orang yang suka mengambil deretan dosa-dosa anda, dan menggantinya dengan pahala-pahala mereka. Bahkan kalau anda mampu, sediakanlah bagi mereka kado ucapan terima kasih karna telah bersedia mengambil dosa-dosa anda.
Untuk itulah anda semestinya tersenyum dan bahagia jika sedang menjadi objek gunjingan yang tidak mengenakkan. Tidak perlu marah, tidak perlu naik darah. Cukup kelola hati anda agar tetap dingin, dan selalu tersenyum untuk mengikis pandangan sinis orang-orang yang menggunjing anda.
Semestinya kita bersyukur dan semestinya kita bahagia jika ada orang mendzolimi kita. Karna dengan begitulah jalan pintas untuk kita dapat menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kita yang kita ketahui , apalagi untuk kategori dosa-dosa yang kita tidak ketahui bahwa itu adalah dosa. Sehingga tanpa sadar kita berjalan menuju hari tua sudah dalam keadaan berkurangnya jumlah dosa, apalagi sampai terkikis habis dosanya. Bukankah itu keberuntungan? Insya’Allah….
“ wahai orang-orang yang beriman! janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (di olok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan yang (di olok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Jangalah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. AL-HUJURAT:11)
Wallahu’alam….
Din: Pemuda Harus Jadi Bagian Perjuangan Bangsa
emilu legislatif dan Presiden saatnya `peremajaan` kepemimpinan nasional.
Hidayatullah.com--Ketua Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, pemuda seharusnya membuktikan
perannya sebagai aset kepercayaan untuk meneruskan perjuangan bangsa,
bukan hanya menjadi perwakilan pergantian generasi.
"Pemuda jangan hanya menjadi delegasi, tapi juga `trustee`," kata Din pada Simposium Pemilu Bersih di Jakarta, Kamis (24/10/2013) malam.
Din mengatakan, pemuda Indonesia harus "bangkit dari tidur" dan mengatur perjalanan generasi dalam arus perubahan dan dinamika global.
Menjelang Pemilihan Umum 2014, Din mengatakan, pemuda akan menghadapi momentumnya dalam regenerasi kepemimpinan dan menjadi perwakilan suara rakyat. Dengan demikian, pemuda jangan menjadi kelompok yang pasif. Namun menjadi garda terdepan dalam mengamankan Pemilu sebagai sarana demokrasi yang adil, jujur, dan bersih.
"Pemilu legislatif dan Presiden adalah masa krusial, karena masa transisi dari generasi, maka saatnyalah `peremajaan` kepemimpinan nasional," ujarnya, dalam pemberitaan Antara.
Pemuda, lanjut Din, perlu mengawal terjaganya konstitusi dan mencegah distorsi konsep bangsa yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa sejak lama. Dengan begitu, pemuda akan dapat memberikan sebuah keberhasilan politik dengan basis moral, bukan hanya politik yang mementingkan kekuasaan para elit.
"Pemudalah yang harus memprakarsai tersebarnya politik moral, bukan hanya mementingkan kekuasaan," kata Din.*
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin.
"Pemuda jangan hanya menjadi delegasi, tapi juga `trustee`," kata Din pada Simposium Pemilu Bersih di Jakarta, Kamis (24/10/2013) malam.
Din mengatakan, pemuda Indonesia harus "bangkit dari tidur" dan mengatur perjalanan generasi dalam arus perubahan dan dinamika global.
Menjelang Pemilihan Umum 2014, Din mengatakan, pemuda akan menghadapi momentumnya dalam regenerasi kepemimpinan dan menjadi perwakilan suara rakyat. Dengan demikian, pemuda jangan menjadi kelompok yang pasif. Namun menjadi garda terdepan dalam mengamankan Pemilu sebagai sarana demokrasi yang adil, jujur, dan bersih.
"Pemilu legislatif dan Presiden adalah masa krusial, karena masa transisi dari generasi, maka saatnyalah `peremajaan` kepemimpinan nasional," ujarnya, dalam pemberitaan Antara.
Pemuda, lanjut Din, perlu mengawal terjaganya konstitusi dan mencegah distorsi konsep bangsa yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa sejak lama. Dengan begitu, pemuda akan dapat memberikan sebuah keberhasilan politik dengan basis moral, bukan hanya politik yang mementingkan kekuasaan para elit.
"Pemudalah yang harus memprakarsai tersebarnya politik moral, bukan hanya mementingkan kekuasaan," kata Din.*
Langganan:
Postingan (Atom)