Minggu, 18 Januari 2015

Banyak Wirid Banyak Duit


Niatkan dipakai ibadah. dan Ber-syukur. tandanya menambah ketaatan kpd Allah Azza wa Jalla

lafadz wirid:

Subhanallahi wa bihamdihi
Subhanallahil azhiim
Astaghfirullah 100X lafadz saat fajar sd masuk subuh


Fadhilah: Ya rasulullah. dunia telah mendatangiku dengan tunduk. hina. berlimpah sampai aku tidak tahu kemana aku harus menyalurkannya (HR Al Mustaghfiri)

—

lafadz wirid:

Subhanallahil azhiim wa bihamdihi
Astaghfirullah. wa as aluhu min fadhlih
10x bada sholat subuh. Dilafadzkan sebelum menutup Doa.

Fadhilah: mendapatkan rejeki tdk disangka2. menjadi kaya. bagi yg istiqomah (HR Abu Al QamQam)

—

lafadz doa:

Bismillahi alaa nafsi.
Bismillahi alaa ahlii wa maali.
allahumma ardhini bimaa qadhaita lii.
wa aafini fiimaa abqaita.
hattaa laa uhibba ta’jiila maa akhkharta.
wa laa ta’khiira maa ajjalta.

Doa Lafadzkan diwaktu pagi 3X

Fadhilah: Ya rasul sungguh aku seorang yg rajin. pekerja keras tapi hartaku tdk bertambah banyak juga. Hingga rasul berikan amalan utk dibaca di waktu pagi.

maka Allah melipat gandakan hartaku. melunasi hutangku dan menjadikan aku dan keluargaku kaya (HR Abu Nu’aim)

—

Tips

Tahukah anda orang yang Bakhil? Bila nama rasulullah disebut tidak baca sholawat. Doa terhijab tidak sampai kepada Allah? bila seorang hamba berdoa hajat dan keperluan tapi lupa baca sholawat.

Setelah beristighfar. memuji-muji Allah. sertakan sholawat rasul di 3 tempat: di awal. dipertengahan. diakhir doamu.

Tahukah anda mengapa Allah menangguhkan pemberian rejeki? Asbab banyaknya dosa2 yg kita lakukan

Mintalah ampunan kpd Allah. (Rasulullah memohon ampun 70x setiap hari) Dan mintalah ampunan Allah untuk muslimin muslimat (org2 sholeh) yg sdh wafat mendahului kita. Fadhilahnya Allah mengampuni dosa2 kita. Diaamiinkan malaikat

Ok begitu saja dulu. Siapa yang mengamalkan akan mendapatkan efek samping berupa Duit. Saya berikan Amalan wirid ini kepada pengunjung blog untuk mengamalkannya. Semoga bermanfaat dunia akherat.

Allahumma Aamiin

Mayat ingin Hidup lagi


Pernah Lihat Mayat..?! uh takut..

Baru Kemarin Dia Cantik, Ganteng, Jadi Rebutan,.
Sekarang, Meskipun Masih Cantik Masih Ganteng Tetapi Tak Ada Yang Sudi Mendekatinya, Apalagi Memilikinya..!

Baru Kemarin Dia Memikat, Mempesona Dan Menarik Simpati,.
Tetapi Sekarang, Orang Yang Paling Dekat Hendak Pendamkan Jasadnya ke Dalam Tanah Secepatnya,.!

Baru Kemarin Dia Selalu Dinanti Nanti, Ditunggu Tunggu..
Sekarang Keluarga Pun Tak Mau Dia Ada Dirumah Lama Lama.

Baru Kemarin Dia Lincah, Gagah dan Perkasa,.
Tetapi Sekarang, Mengedipkan Mata Pun Dia Tak Sanggup..!

Baru Kemarin Dia Beli Pakaian Model Terbaru..
Sekarang Dia Pake Pakaian Model Lama, Model Zaman Nabi Nabi..!

Baru Kemarin Dia Beli Parfum Kwalitas Import.
Sekarang Tubuhnya Wangi Pandan dan Kapur Barus..!


Baru Kemarin Dia Luluran diSalon Langganan.
Sekarang Dia Luluran Dengan Tanah..!

Baru Kemarin Dia Selesaikan Cicilan Kendaraan Baru Milik Pribadi..
Sekarang Dia Pake Kendaraan Jadul, Inventaris Masjid..!

Baru Kemarin Dia Makan Enak Direstoran Mewah.
Sekarang Dia Yang Jadi Makanan Enak Para Cacing, Ulat, Kecoa Dan Lain Lain..

Baru Kemarin Dia Beli Lampu Kamar 24watt.
Kini Dia Dalam Ruang Gelap 24jam..!

Baru Kemarin Surat Rumahnya Kelar.
Kini Dia Tinggal DiLubang Tanah..!

Baru Kemarin Dia Minum Jamu Awet Muda,.
Kini Daging Ditubuhnya Meleleh..!

“APA YANG KINI DIA HARAPKAN?”

Baru Kemarin Dia Tidur Lelap Ketika Adzan Subuh.
Sekarang Dia Sangat Berharap Agar Dapat Bangun Shalat Tahajud Meski Sekali Saja.

Baru Kemarin Dia Lantang Menentang Dakwah Agama..
Saat Ini Dia Sangat Berharap Ada Yang Ajak Dia Amalkan Agama.

Baru Kemarin Dia Abaikan Takaza Tambah Masa Tambah Korban..
Sekarang Dia Sangat Berharap Ada yang Tasykeel Gerak Seumur Hidup..!!

Niat Islah Diri Dijalan Allah Ta’alaa,.
Insyaallah 10% dari Waktu Hidup.

copas dari stts Da’i yg risaunya tinggi.. semoga bermanfaat naikkan jazbah

Ketika Tentara Korsel Berbondong-Bondong Kembali ke Islam


Bukan rahasia umum lagi jika Korea Selatan merupakan salah satu negara di Asia dengan tingkat penginjilan yang paling aktif di dunia. Namun hidayah memang dapat datang kapan saja dan di mana saja. Dan itu terjadi ketika puluhan tentara Negeri Ginseng tersebut pulang dari medan tugas di Irak.

Tentara Korsel diketahui tergabung dengan ‘Unit Zaitun’ dan ditempatkan di Irbil, Irak bagian utara. Di sini mereka berinteraksi dengan warga Irak yang mayoritas memeluk Islam. Dalam interaksi ini mereka melihat dan mengamati bagaimana Islam bisa menjadi pedoman hidup yang benar-benar menyentuh hati dan sesuai dengan fitrah manusia.  Maka mereka pun mulai mempelajari Islam dengan membaca kitab suci al-Qur’an dan banyak bertanya dengan para pemuka agama Islam setempat.

Para tentara Korsel ini mulai tersadar dan kembali ke fitrah manusia, yaitu Islam. Letnan Son Hyeon-ju sendiri mengaku kembali ke Islam pada tahun 2004 silam. “Saya menjadi Muslim karena saya bisa merasakan jika Islam lebih humanis dan damai,” ujar Letnan Son Hyeon-ju menyebut angka 37 tentara yang menjadi mualaf dikutip dari The Chosunilbo (15/1).

Son Hyeon-jun, yang merupakan anggota Pasukan Elit Brigade ke-11, serta teman-temannya itu telah bertugas di Ibril, Irak bagian utara. Di sanalah mereka mulai mengenal Islam.

Dan ketika kembali ke negaranya, bertepatan dengan hari Jumat, 37 tentara Korea Selatan itu bersyahadat di Masjid Hannam-dong, Seoul. Sebelum mengucap Syahadat, mereka berwudu. Setelah itu bersyahadat dengan dibimbing imam masjid dan disaksikan jamaah salat Jumat.

Saat membaca Syahadat, para tentara itu berdiri sejajar dalam garis lurus, untuk melambangkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. Mereka sungguh lancar mengucap Syahadat dalam bahasa Arab

Selasa, 13 Januari 2015

Anak Singa yang Salah Jalan


Tersebutlah seekor anak singa yang sejak bayi dipelihara oleh sekawanan kambing yang tinggal di padang rumput di pinggir hutan, sehingga sampai bertahun-tahun kehidupannya, anak singa itu menganggap dirinya adalah seekor kambing pula.

Ketika kawan-kawan kambingnya mulai beranjak dewasa mulailah tumbuh tanduk di kepala mereka. Sedangkan di kepala anak singa itu sama sekali tidak ada tanda-tanda akan tumbuh tanduk (tentu saja!). Hal itu membuat anak singa tersebut menjadi sangat sedih, karena ia menjadi bahan permainan. Ia diejek penakut, lemah, bodoh dan ditanduk ke sana kemari oleh kawan-kawannya. Iapun dianggap menjadi beban keluarga, karena sulit untuk memakan rumput dan dedaunan, sehingga tubuhnya semakin lama semakin kurus.

Pada suatu hari, lewatlah seekor singa jantan di dekat padang rumput itu. Begitu melihat ada kawanan kambing, singa itu langsung berlari memburu mereka. Kambing-kambing itu berlari lintang pukang ketakutan, sehingga terjadilah kejar-mengejar yang cukup lama.

Akhirnya singa jantan dewasa itu mengetahui ada sesuatu yang aneh. Ia melihat seekor singa muda ikut berlari di tengah-tengah kawanan kambing. Bukannya menburu kambing, tetapi singa muda itu lari ketakutan mengindari dirinya, persis sama dengan kelakuan kambing-kambing itu.

Singa jantan dewasa itu memutuskan untuk menangkap singa muda itu, membawanya ke sarangnya dan memberi daging segar untuk makanannya. Semula singa muda itu ketakutan, tetapi lama kelamaan singa muda itu sadar, bahwa ia cocok dan suka makan daging, dan itu berarti ia adalah seekor kambing yang aneh.

Cukup lama proses yang diperlukan oleh singa dewasa itu untuk menyadarkan singa muda itu bahwa dirinya bukanlah kambing, bahkan kambing-kambing itu sama sekali bukanlah tandingannya, karena mereka adalah makanan bagi singa.

Singa dewasa itu juga mengajari singa muda itu cara-cara mengaum, mencakar, menggigit dan berbagai jurus sakti laiinya yang diperlukan untuk berburu. Dan setelah dianggap cukup, singa muda itu diantar untuk berburu kambing di padang rumput tempat bermainnya dulu.

Teman-teman sepermainannya terperanjat dengan kedatangannya, tetapi sikap mereka masih tetap meremehkan dan menganggap singa muda itu sebagai anak bodoh, lemah dan penakut seperti dulu. Sebagian dari mereka mulai berancang-ancang untuk menanduknya.

Tetapi apa yang terjadi? Singa muda itu kemudian mengaum dengan auman yang menggetarkan hutan, dan membuat seluruh penghuni padang rumput berlari ketakutan. Tinggallah singa muda itu berdiri sendirian dengan penuh wibawa di tengah padang rumput. Dan secara perlahan ia bergerak menakutkan ke arah larinya kawanan kambing.

Senin, 12 Januari 2015

Alasan Tidak Mengamalkan Agama


Ada orang kaya mengadu pada Allah tidak bisa mengamalkan agama dengan alasan karena disibukkan oleh kekayaannya. Lalu Allah berkata, “HambaKu Sulaiman AS lebih kaya dan lebih sibuk dari kamu, tetapi kekayaan dan kesibukkannya tidak membuat dia lalai dari perintahKu.”

Ada orang sakit yang mengadu pada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kesehatannya tidak memungkinkan. Lalu Allah berkata, “HambaKu Nabi Ayub AS lebih sakit darimu dan lebih parah penyakitnya dibandingkan dirimu tetapi penyakitnya tidak melalaikannya dari mengingatKu.”

Ada orang yang semasa hidupnya menjadi budak (bahasa modernnya pembantu atau karyawan ) mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama karena tidak bebas melakukan sesuatu. Lalu Allah berfirman, “Hambaku Yusuf AS juga pernah menjadi budak, namun keadaannya tidak melalaikan dia dari beribadah kepadaKu.”

Ada orang yang mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kemiskinannya. Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Hambaku Isa AS lebih miskin darimu dan lebih susah kehidupannya, tetapi kemiskinan dan kesusahan yang dialaminya tidak melalaikannya dari beribadah kepadaKu.”

Mau lari kemana kita ini?
Lari kpd Allah …

Kekayaan bukanlah kemuliaan
Kemiskinan bukanlah kehinaan
Namun itu semua hanyalah satu ujian

Orang yang merasa mulia dengan harta adalah orang yang rusak iman nya

Orang yang merasa hina dengan kemiskinan juga orang yang rusak iman nya

Kemuliaan hanya dalam ketaqwaan.
Siapa yang bertaqwa dia mulia
Siapa yang tidak bertaqwa dia hina

DAKWAH UNTUK DIRI KITA


Begitu dalam diri sebagian manusia terdapat suatu penyakit, yaitu orang yang memberi nasihat agama, ceramah, tulisan, ta’lim atau tabligh kepada orang lain, maka yang terpikir olehnya adalah orang lain, sedangkan dirinya sendiri terlupakan.
Padahal, meskipun bertabligh kepada orang lain itu sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah memperbaiki diri sendiri. Banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa Nabi saw. memberi peringatan keras kepada orang yang menasihati orang lain, tetapi ia sendiri melakukan kemaksiatan.
Pada malam Isra Mi’raj, Rasulullah saw. melihat sekelompok manusia yang bibirnya digunting-gunting dengan gunting api yang membara. Beliau bertanya, “Siapakah orang-orang itu?” Jibril a.s. menjawab, “Mereka adalah para mubaligh dari umatmu yang tidak mengamalkan apa yang mereka dakwahkan.” (Misykat).
Sebuah hadits lain menyebutkan, “Sebagian ahli surga akan mendatangi sebagian ahli neraka dan bertanya, “Mengapa kalian berada di neraka, padahal kami telah mengikuti ajaran-ajaranmu, sehingga kami berada di surga?” Jawab mereka, “Karena kami tidak mengamalkan apa yang kami sampaikan kepada orang lain.”
Hadits lain berbunyi, “Adzab Allah akan lebih cepat diturunkan ke atas ulama yang jahat.” Mereka sangat terkejut dan bertanya, “Mengapa adzab Allah lebih dahulu menimpa kami daripada menimpa para penyembah berhala?” Dijawab, “Orang-orang berilmu yang berbuat maksiat tidak mungkin disamakan dengan orang yang tidak berilmu yang berbuat maksiat.”
Alim ulama yang mukhlis menulis bahwa nasihat-nasihat agama yang tidak diamalkan oleh orang yang memberikan nasihat tidak akan memberi manfaat kepada orang lain. Itulah sebabnya walaupun pada zaman ini setiap hari ada bermacam-macam nasihat, ceramah, majelis ta’lim, dan tulisan-tulisan, semuanya kurang berpengaruh terhadap amalan para pendengar dan pembacanya.
Allah swt. sendiri telah berfirman di dalam Al-Quran:
“Apakah kamu menyuruh manusia agar berbuat kebaikan sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Maka tidakkah kamu berpikir?” (Q.s. Al-Baqarah: 44).
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak dapat bergeser kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sehingga ia ditanya empat perkara: Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan? Tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan? Dan tentang ilmunya, apakah ia mengamalkannya.” (Bazzar, Thabrani – At-Targhib).
Abu Darda r.a., seorang sahabat yang terkenal, berkata, “Yang paling aku takuti ialah pertanyaan yang akan ditanyakan kepadaku pada hari Kiamat di depan seluruh manusia, yaitu: Apakah kamu telah mengamalkan ilmu-ilmu yang kamu miliki?”
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw., “Siapakah makhluk yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Jangan bertanya kepadaku mengenai hal-hal buruk, bertanyalah mengenai yang baik. Makhluk yang paling buruk adalah ulama yang jahat.”
Dalam sabda beliau lainnya, “Ilmu itu ada dua macam, pertama ilmu yang hanya ada dalam ucapan, ini pembungkam Allah (terhadap pemiliknya) dan akan menuntut ulama tersebut.
Kedua, ilmu yang memberi kesan di dalam hati, yang akan memberi manfaat.” Maksudnya, seseorang dalam menuntut ilmu agama hendaknya tidak hanya yang bersangkutan dengan masalah lahiriyah, tetapi juga ruhaniyah, supaya berkesan di dalam hati. Kalau ilmu tidak berkesan di hati, maka Allah swt. akan menuntut pada hari Kiamat, “Apakah kamu mengamalkan ilmu yang kamu miliki?”
Masih banyak hadits lain yang menyebutkan betapa keras ancaman Allah. Oleh sebab itu, saya memohon kepada para penceramah dan mubaligh agar terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri, baik secara lahir maupun batin, dan mengamalkan apa yang telah disampaikan kepada orang lain. Jika hanya menyampaikan tetapi tidak mengamalkan, maka akan masuk dalam golongan orang-orang yang mendapat ancaman-ancaman tersebut.

Saya berdoa kepada Allah, semoga Allah mengaruniakan kepada saya taufiq untuk memperbaiki diri saya lahir dan batin, serta dapat mengamalkan a

Rabu, 07 Januari 2015

Kisah Anak Laki-Laki Harun Ar-Rasyid rah.a

Kisah Anak Laki-Laki Harun Ar-Rasyid rah.aHarun Ar Rasyid mempunyai seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 16 tahun. Ia banyak duduk di majlis orang-orang zuhud dan wara’.

Dia juga sering berziarah ke pemakaman. Ketika sampai di pemakaman, ia berkata, “Ada masanya kalian tinggal di dunia ini dan sebagai tuannya. Akan tetapi ternyata dunia tidak melindungi kalian sehingga kalian sampai ke dalam kubur. Seandainya aku mengetahui apa yang menimpa kalian sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kalian katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepada kalian.
kemudian ia membaca syair ini:

“Pemakaman menakutkanku setiap hari. Suara tangisan dan ratapan wanita yang berduka cita membuatku sedih.”
Pada suatu hari, ia datang ke istana ayahnya, Harun Ar Rasyid. Pada waktu itu, semua menteri dan para pejabat kerajaan beserta tamu-tamu terhormat lainnyasedang berkumpul bersama raja, sedangkan anak laki-laki tersebut hanya mengenakan kain yang sangat sederhana dengan surban dikepalanya.
Ketika orang-orang istana melihat dirinya dalam keadaan seperti itu, mereka saling berkata,
“Tingkah laku anak gila ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan. Jika Amirul Mukminin menasehati dan mengingatkannya, mungkin ia akan berhenti dari kebiasaannya gilanya itu.”
Begitu mendengar perkataan mereka, Amirul Mukminin berkata kepada anak laki-lakinya,
“Wahai anakku sayang, engkau telah mempermalukan diriku di hadapan para bangsawan.”
Mendengar kata-kata itu, ia tidak menjawab sepatah katapun atas perkataan ayahnya, tetapi ia memanggil seekor burung yang bertengger di ruangan tersebut dan berkata,
“Demi Dzat yang menciptakanmu, terbang dan hinggaplah di atas tanganku.”
Burung itupun terbang dan hinggap di atas tangannya. Kemudian ia berkata, “Sekarang, kembalilah ke tempatmu”
Maka terbanglah burung itu lalu kembali ke tempatnya. Setelah itu ia berkata,
“Ayahku, sebenarnya kecintaanmu kepada dunia itulah yang telah menghinakan diriku. Sekarang aku telah bertekad untuk berpisah denganmu.”
Setelah berkata demikian, anak tersebut pergi meninggalkan istana. Ia pergi hanya membawa Al Quran. Ibunya memberinya sebuah cincin yang sangat mahal agar dapat digunakan pada saat memerlukan.
Ia berjalan dari istana hingga tiba di Bashrah. Ia mulai bekerja sebagai buruh. Tetapi dalam satu minggu, ia hanya bekerja selama satu hari, yakni pada hari sabtu. Hasil jerih payahnya selama sehari ia gunakan untuk keperluan hidupnya selama seminggu. Kemudian pada hari ke delapan, yakni pada hari sabtu, ia bekerja lagi.
Ia hanya menerima upah sebesar satu dirham, dan untuk keperluan setiap harinya, ia menggunakannya sebesar satu danaq (seperenam dirham). Ia tidak mau mengambil lebih atau kurang dari upah tersebut.
Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah a. Ia berkata, “Ketika sebelah rumahku roboh, aku memerlukan seorang tukang batu untuk memperbaiki rumahku. Ada seseorang yang memberitahu aku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat memperbaiki rumah. Maka aku segera mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang anak muda tampan yang sedang duduk membaca Al Quran. Di sisinya terletak sebuah tas kecil. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai anakku, apakah engkau mau bekerja sebagai buruh?’ Ia menjawab, ‘Mengapa tidak, kita diciptakan memang untuk bekerja. Katakan kepadaku apa yang harus aku kerjakan?’ Aku berkata, ‘Memperbaiki bangunan.’ Ia berkata, ‘Aku bersedia asalkan aku mendapat upah satu dirham dan satu danaq sehari, dan pada waktu shalat aku tidak bekerja. Aku harus mengerjakan shalat.’ Aku menerima syaratnya. Kemudian aku membawanya ke rumah dan menyuruhnya bekerja.
Ketika saat shalat Maghrib tiba, aku sangat terkejut, karena ternyata ia telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, pekerjaan yang dapat dilakukan oleh sepuluh orang. Aku memberinya upah dua dirham, akan tetapi ia tidak mau menerimanya, karena melebihi dari syarat yang telah ia ajukan. Ia hanya mau mengambil satu dirham dan satu danaq, lalu pergi. Karena merasa penasaran, pada hari berikutnya aku keluar mencarinya, tetapi ia tidak kutemukan. Aku bertanya kepada orang-orang dengan menerangkan ciri-ciri anak muda tersebut, kalau-kalau ada yang mengetahuinya. Orang-orang memberitahuku bahwa anak tersebut hanya bekerja pada hari sabtu. Selain hari tersebut, tidak ada seorang pun yang dapat menemukannya. Karena merasa puas dengan pekerjaan anak muda tersebut, aku memutuskan untuk menunda pembangunan dinding rumahku pada hari sabtu mendatang dengan meminta bantuan kepada anak muda tersebut.
Pada hari sabtu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia sedang membaca Al Quran sebagaimana biasanya. Aku mengucapkan salam kepadanya dan menanyakan apakah ia bersedia bekerja lagi di tempatku dengan syarat yang sama dengan hari sabtu yang lalu. Ia berangkat bersamaku dan mulai mengerjakan dinding rumahku lagi.
Aku masih merasa sangat penasaran dengan pekerjaan anak muda tersebut, bagaimana mungkin ia mampu mengerjakan sendiri sebuah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh sepuluh orang pekerja. Maka, ketika ia mengerjakan pekerjaannya, dengan diam-diam aku mengintipnya.
Betapa terkejutnya ketika aku melihat apa yang dilakukannya. Ketika ia mengaduk semen dan meletakkannya di dinding, batu-batu itu menyatu dengan sendirinya.
Maka aku sadar dan yakin bahwa anak muda tersebut bukanlah pemuda biasa, akan tetapi seorang kekasih Allah. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus, dalam melakukan pekerjaannya, pemuda tersebut selalu mendapat bantuan dari Allah secara ghaib.
Pada sore harinya aku hendak memberinya upah sebesar tiga dirham, akan tetapi ia tidak mau menerimanya. Ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq, kemudian pergi.
Aku menunggunya lagi selama seminggu. Dan pada hari sabtu, aku keluar mencarinya. Akan tetapi aku tidak menemukannya. Aku memperoleh berita dari seseorang yang mengatakan bahwa pemuda tersebut sedang sakit. Tiga hari lamanya ia jatuh sakit.
Kemudian aku minta tolong kepada seseorang untuk mengantarkan aku ke tempat pemuda yang sedang menderita sakit itu. Sesampainya di tempat tinggalnya, ternyata pemuda itu tengah berbaring tak sadarkan diri di atas tanah, kepalanya berbantalkan separuh potongan batu bata. Ketika aku memberi salam padanya, ia tidak menjawab. Maka aku mengucapkan salam sekali lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku segera mengangkat kepalanya dari batu bata itu dan meletakkannya di atas pangkuanku.
Tetapi ia menarik kepalanya dan membaca beberapa bait syair, dua di antaranya adalah :
Wahai kawanku, janganlah engkau terperdaya oleh kenikmatan dunia. Karena hidupmu akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan apabila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkau pun akan diusung ke pemakaman.
Setelah mengucapkan syair tersebut, ia berkata, “Wahai Abu Amir, jika ruhku telah keluar dari tubuhku, mandikanlah aku, dan kafanilah aku dengan pakaian ini. Aku menyahut, “Wahai sayang, aku tidak keberatan membelikan kain kafan yang baru untukmu.”
Ia menjawab, “Orang yang masih hidup lebih memerlukan pakaian yang baru daripada orang yang meninggal (sama dengan ucapan Abu Bakar Ash Shiddiq ra ketika hendak meninggal dunia). Anak itu menambahkan, “Kain kafan yang baru ataupun using akan segera membusuk. Apa yang tinggal bersama seseorang setelah kematiannya hanyalah amal perbuatannya. Berikanlah sarung dan cerekku ini kepada penggali kubur sebagai upahnya.
Al Quran dan cincin ini tolong sampaikan langsung kepada Khalifah Harun Ar Rasyid dan sampaikan kepadanya pesanku,
“Wahai ayah, jangan sampai engkau meninggal dalam keadaan lalai dan tertipu oleh dunia.”
Dengan keluarnya kata-kata tersebut dari bibirnya, pemuda itu pun meninggal dunia. Dan pada saat itulah aku menyadari bahwa ternyata ia adalah seorang pangeran, putra mahkota.
Setelah putra mahkota itu meniggal dunia, aku pun memandikannya, mengkafaninya, dan memakamkannya sesuai dengan wasiatnya. Kedua benda berupa sarung dan cerek aku berikan kepada penggali kubur.
Kemudian aku pergi ke Baghdad dengan membawa Al Quran dan cincin untuk aku serahkan kepada Khalifah Harun Ar Rasyid. Sungguh aku sangat beruntung, ketika aku sampai di pintu gerbang istana khalifah, pasukan raja sedang keluar dari istana khalifah. Aku pun berdiri di tempat yang tinggi. Mula-mula keluar pasukan berkuda yang sangat besar, yakni berjumlah 1000 tentara. Setelah itu keluar lagi sepuluh pasukan berkuda, masing-masing pasukan berjumlah 1000 tentara. Amirul Mukminin sendiri berada di dalam pasukan yang kesepuluh.
Dengan kerasnya aku berseru, “Wahai Amirul Mukminin, demi kekerabatanmu dengan Rasulullah saw, berhentilah sebentar!” Mendengar suaraku itu, ia melihat kepadaku. Maka dengan cepat aku maju kea rah Amirul Mukminin dan berkata, “Ini adalah titipan seorang laki-laki asing kepadaku. Ia berwasiat agar aku menyampaikan dua macam benda ini langsung kepada engkau.”
Begitu melihatnya, raja pun mengenalinya dan menundukkan kepala sesaat. Air matanya mengalir dari kedua matanya. Kemudian khalifah menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istana.
Setelah khalifah kembali pada sore harinya, khalifah memerintahkan pengurus istana untuk menutup semua tabir istana dan berkata kepada penjaga pintu, “Panggil orang itu, walaupun ia akan membengkitkan kembali kesedihanku.” Penjaga pintu dating kepadaku dan berkata, ‘Amirul Mukminin memanggilmu. Tetapi ingat, Amirul Mukminin sedang berduka. Jika engkau ingin menyampaikan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah disampaikan dalam lima kata saja.’ Setelah berkata demikian, ia membawaku menemui Amirul Mukminin. Pada waktu itu Amirul Mukminin duduk seorang diri.
Ia berkata kepadaku, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Aku pun duduk di dekat khalifah. Lalu khalifah berkata, ‘Apakah engkau mengenal anakku?’ Aku menjawab, ‘Betul, aku mengenalnya.’ Khalifah bertanya, ‘Pekerjaan apakah yang ia lakukan?’ Aku menjawab, ‘Ia bekerja sebagai tukang batu.’ Khalifah bertanya, ‘Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?’ Aku menjawab, ‘Ya, pernah.’ Khalifah bertanya lagi, ‘Apakah engkau tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw?’ (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas ra, paman Nabi Muhammad saw). Aku berkata, ‘Amirul Mukminin, terlebih dahulu aku memohon ampunan dari Allah SWT, setelah itu aku memohon maaf kepadamu. Pada waktu itu aku belum mengetahui kalau ia masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw. Aku baru mengetahuinya ketika ia hendak meninggal dunia.’ Khalifah bertanya, ‘Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?’ Aku menjawab, ‘Benar.
Khalifah berkata, ‘Ulurkan tanganmu!’ Ia menarik tanganku, kemudian menempelkan di dadanya dambil membaca beberapa syair yang artinya:
“Wahai engkau yang menjauh dariku, Hatiku larut dalam kesedihan karenamu. Mataku mencucurkan air mata penderitaan. Wahai engkau yang jauh kuburnya. Terlalu jauh, tetapi kesedihanmu lebih dekat di hatiku. Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia.
Wahai anakku yang menjauh dariku
Engkau bagai bulan purnama yang tergantung di atas dahan perak
Bulan telah menetap di kubur
Sedang dahan perak menjadi debu
Setelah melantunkan syair di atas, Harun Ar Rasyid ingin pergi ke Bashrah untuk menziarahi makam anaknya. Abu Amir pun menyertainya. Begitu sampai di makam anaknya, Harun Ar Rasyid membaca beberapa bait syair yang artinya sebagai berikut:
Wahai musafir kealam yang tidak diketahui
Engkau takkan kembali ke rumah
Maut dengan cepat telah merenggutmu pada awal masa remajamu
Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku
Kediaman hatiku di kesunyian
Engkau telah merasakan racun kematian
Yang seharusnya ayahmulah yang meminumnya di usia tua
Sungguh, setiap orang akan merasakan kematian
Apakah ia seorang pengembara, atau seorang penduduk kota
Segala puji bagi Allah Yang Esa, Yang tidak mempunyai sekutu
Karena ini adalah bukti keputusan-Nya
Abu Amir rah a berkata, “Pada malam harinya, ketika aku telah menyelesaikan wirid-wiridku, aku tertidur. Dalam tidurku, aku bermimpi melihat sebuah istana yang berkubah dari nur, yang di atasnya terdapat awan dari nur yang menaunginya. Kemudian awan itu hilang, dan anak itu memanggilku sambil berkata,
‘Wahai Abu Amir, semoga Allah memberimu balasan yang lebih baik karena engkau telah memandikan, mengkafani, memekamkan aku, dan telah menunaikan semua wasiatku. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai kekasihku, bagaimana keadaanmu, apa yang engkau alami?’ Ia berkata, ‘Aku telah sampai ke hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah dan Dia sangat ridha kepadaku.’
Al Malik telah memberi tahu kepadaku bahwa aku memdapatkan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah terdengar oleh telinga manusia, dan akal tidak dapat memikirkannya.
Kemudian ruh pemuda tersebut berkata kepadaku dalam mimpiku, “Allah SWT telah berjanji kepadaku, Dia bersumpah dengan keagungan-Nya bahwa Dia akan menganugerahkan kenikmatan, kehormatan, dan karunia semacam itu kepada semua hamba-Nya yang keluar dari dunia seperti aku.’
Penulis kitab Raudh mengatakan bahwa ia juga mendapatkan cerita yang sama secara keseluruhan dari sanad yang lain. Di dalamnya juga diterangkan bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai keadaan anak itu. Ia menjawab, ‘Anakku lahir sebelum aku menjadi raja. Ia mendapat didikan adab yang sangat baik, ia telah belajar Al Quran dan ilmu-ilmu lain. Ketika aku menjadi raja, ia pergi meninggalkan aku. Ia tidak pernah mengambil manfaat dari duniaku. Ketika ia hendak pergi, akulah yang berkata kepada ibunya agar ia diberi sebuah cincin mutiara yang sangat indah dan mahal harganya. Akan tetapi ia tidak pernah menggunakannya, bahkan ketika menjelang wafat, ia mengembalikannya. Anak ini sangat patuh kepada ibunya.” (raudh kitab)
(tercatat juga dalam kitab fadhilah amal syaikh maulana zakariya. rah.a).