Rabu, 04 Februari 2015

MI Miftahul Ulum 3 GKS


Tiada kata yg pantas dilafadzkan selain "AL HAMDULILLAH" atas berkat karunia, taufiq dan rahmat -Nya sehingga peserta didik MI Miftahul Ulum 3 berhasil meraih juara dalam  Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) MI IV  Kabupaten Sampang yg dilaksanakan pada tanggal 03 Februari 2015 bertempat di Sampang.
Menurut laporan Kasek. MI Miftahul Ulum 3 Gunung Kesan Kec. Karangpenang Kab. Sampang Sahuri, S.Pd.I yang dihubungi via selulernya menerangkan bahwa peserta didik yg berhasil meraih juara yaitu dari Cabang Seni Samroh yg dibimbing oleh Purnama Nur Azizah, S.Pd.I dan Yuliati Ningsih, S.Pd.I meraih juara 2 yg diikuti 12 orang peserta terdiri dari: Fitriyah (vokalis), Mafrudah, Ila Safitri, Sholiha, Ruroh, Rohami, Suyyibah, Farrohah, Nur Aini, Khoiriyah, Matus dan Lulu'ul Mokarramah.
Sedangkan Paduan Suara meraih juara 2 yg dibimbing oleh Saskur Kholil, S.Sos. dan Sukri Suparto, S.Pd.I yg di ikuti 13 orang yaitu:  Ilmiyatus Sholihah, Fitri, Putri, Maimuna, Ismawati, Anisah, Luaimanah, Misbahah, Imroatus Sholihah, Hasanah, Usmilah, Inayatus Sholihah, Qurrotul Aini. Peserta puisi Abdus Syakur yg dibimbing oleh Hanafi Kholil, S.Pd. dan Moh. Sukri Hasan meraih juara 2 juga, tahun 2013 kami hanya menjadi peserta tanpa gelar. Semoga kedepan kami semakin dpt meningkatkan prestasi, mohon doa semuanya.

Manfaat Menghafal Al Quran Ternyata Bisa Meningkatkan Prestasi Belajar di Sekolah

Tak banyak sekolah yang menerapkan pelajaran menghafal Al Quran sebagai kurikulum, saat ini mungkin terbatas hanya di Sekolah Islam atau Pesantren. Pendidikan formal dianggap lebih penting daripada menghafal Al Quran, parahnya siswa-siswi biasanya menganggap hafalan Al Quran itu sendiri sebagai beban layaknya mendapat tugas pelajaran formal. Tentu ini menjadi tugas berat bagi Orang Tua dan Guru untuk membiasakan anak didiknya ini untuk menghafal Al Quran.


Profesor psikologi di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah di Riyadh, Dr. Abdullah Subaih berpendapat bahwa dengan menghafal Al Quran berarti siswa terlatih untuk berkonsentrasi. Kita tahu bahwa pendidikan formal juga dibutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mempelajarinya, Nah dengan belajar menghafal Al Quran maka dia akan terlatih dengan konsentrasi yang tinggi.

Konsentrasi yang tinggi ini dihubungkan dengan kinerja otak. Menurut M. Ngalim Poerwanto, dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992 – hal. 52) Jika sel-sel otak bekerja atau difungsikan terus dengan hal-hal positif dan aktif, maka akan menjadi lebih kuat.

Jika kita melihat contoh ulama zaman dahulu, seperti Imam Syafi’i, beliau telah menghafal Al Quran sejak usianya belum baligh, yakni 10 tahun. Jadi kekuatan otak dalam menghafal Al Quran sebaiknya dimulai sejak usia dini. Ini diperkuat juga dengan pendapat dari Dr. Abdurrahman Abdul Kholik yang menyatakan bahwa usia anak-anak dari 5 tahun hingga 23 tahun adalah usia manusia dengan kekuatan hafalan yang sangat bagus.

Fakta-fakta di atas diperkuat lagi dengan studi yang dilakukan oleh DR. Shaleh Bin Ibrahim Ashani, dosen dari Universitas Imam Muhammad Ibn Saud Riyadh. Dalam penelitiannya beliau melibatkan dua kelompok siswa-siswi Universitas Malik Abdul Aziz di Jeddah. Dalam studinya ini disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kuantitas hafalan AL Quran dan tingkat kesehatan mental dan psikologis siswa. Makin banyak hafalan Al Quran, maka siswa tersebut cenderung memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih baik dibanding mereka yang memiliki hafalan yang rendah. Kesehatan mental inilah yang berpengaruh pada pengembangan keterampilan siswa dan prestasi akademik di sekolah.

Dengan se idzin Alloh swt. Kami akan segera membina padepokan tahfidzul Qur an di dusun Gunung Timur desa Gunung Kesan Kec. Karangpenang Kab. Sampang Jawa Timur, Kami selalu berharap agar semua dpt mengambil bagian penting dari proyek besar ini dimana keuntungannya utk dunia - akhirat.

Selasa, 03 Februari 2015

Makanan-Makanan Yang Dapat Meredakan Mual


Mual belum tentu gejala sebuah penyakit, karena terlalu kenyang atau tak tahan sebuah aroma saja seseorang bisa merasa mual. Namun ternyata kondisi ini juga cukup mengganggu apabila dibiarkan begitu saja.

Ada nggak ya, cara menghilangkan rasa mual tanpa harus sedikit-sedikit minum obat?

Dilansir IndiaTimes, ada beberapa makanan yang ternyata dapat meredakan mual. Aman dikonsumsi kapan saja dan memberikan efek yang instant.

Apel

Buah yang kaya akan serat ini terbukti dapat meredakan rasa mual dalam sekejap. Perut jadi lebih tenang dan tidak membuat Anda resah dan gelisah.

Jahe

Aroma dan rasa jahe yang hangat ini akan meredakan mual dalam sekejap. Dengan menyeduhnya bersama air hangat, dan dikonsumsi, mual Anda akan reda.

Kacang

Rasa mual juga bisa diakibatkan karena tubuh kekurangan protein. Anda boleh ngemil kacang-kacangan seperti almond atau kacang tanah untuk menggantikan sumber protein lain bila sekedar ingin meredakan mual.

Biskuit Cracker

Tepung yang terdapat pada biskuit cracker ini dapat membantu menyerap asam di dalam lambung, sehingga sedikit meredakan mual. Tetapi disarankan untuk memilih yang rasanya plain saja, bukan yang manis bertabur gula atau bertabur abon.

Pisang

Makan buah pisang dapat meningkatkan energi serta menghilangkan mual dalam perut. Pisang ini juga cukup ampuh untuk membantu mengatasi problem pencernaan.

Sari jeruk lemon

Peras sari lemon, tambahkan sedikit gula serta seduh dengan air hangat. Ramuan ini akan membantu meredakan mual, meningkatkan energi dan menaikkan kembali mood Anda.

Lemon sendiri akan menjaga kelembaban tubuh sehingga tidak sampai kekurangan cairan.

Mint

Bila Anda tak menemukan daun mint, maka Anda bisa mencari jenis permen yang mengandung daun mint. Dihisap-hisap dan rasa pedasnya akan membuat segar tenggorokan serta perut. Rasa mualpun akan mereda.

Jus buah

Nah, selain cara-cara di atas, Anda juga bisa mengonsumsi jus buah kesukaan Anda. Pastikan agar kadar gulanya dikurangi sehingga tidak malah memicu mual ya. Biasanya asam yang dikandung oleh buah-buahan akan ampuh mengatasi mual di perut.

Mulianya Seorang Guru


Ibnu Kholil 

Jika kita mencoba merenung dan berpikir siapakah orang yang paling berjasa dalam hidup kita setelah kedua orang tua kita? Jawabannya pastilah Guru. Guru ibarat pelita yang menjadi penerang dalam gulita. Jasa mereka tentu sulit untuk dinilai sebagaimana sulitnya menilai jasa para pahlawan bangsa yang telah rela mengorbangkan segala hal yang mereka miliki demi meraih kemerdekaan, termasuk mengorbangkan jiwa mereka. Bahkan guru adalah sang pahlawan itu sendiri walaupun tanpa tanda jasa.
Guru selalu memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilaku yang buruk. Oleh karena itu, guru mempunyai kedudukan tinggi dalam agam Islam. Dalam ajaran Islam pendidik disamakan ulama yang sangatlah dihargai kedudukannya. Hal ini dijelaskan oleh Allah maupun Rasul-Nya. Firman Allah Swt:
Artinya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al-Mujadalah 11)
Dalam beberapa hadits disebutkan "jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga kamu menjadi rusak". Dalam hadis Nabi yang lain: "Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para shuhada". (H.R Abu Daud dan Turmizi).
Rasulullah Saw juga bersabda: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mepelajari al-Quran dan mengamalkanya". (H.R. Bukhari)
Firman Allah dan sabda Rasul tersebut menggambarkan tingginya kedudukan orang yang mempunyai Ilmu Pengetahuan (pendidik). Hal ini beralasan bahwa dengan pengetahuan dapat mengantarkan manusia untuk selalu berpikir dan menganalisa hakikat semua fenomena yang ada pada alam, sehingga mampu membawa manusia semakin dekat dengan Allah Swt. Dengan kemampuan yang ada pada manusia terlahirlah teori-teori untuk kemaslahatan manusia.
Menurut al-Ghazali pendidik merupakan maslikhul kabir. Bahkan dapat dikatakan pada satu sisi, pendidik mempunyai jasa lebih dibandingkan kedua orang tuanya. Lantaran kedua orang tuanya menyelamatkan anaknya dari godaan dunia, sedangkan pendidik menyelamatkan dari sengatan api neraka. Kedudukan pendidik dalam pendidikan Islam ialah orang yang memikul tanggung jawab membimbing.
Selain sebagai pembimbing dan pemberi arah dalam pendidikan, pendidik juga berfungsi sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar-mengajar, yaitu berupa teraktualisasinya sifat-sifat ilahi dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik guna mengimbangi kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.
Al-Ghazali menukil beberapa hadis Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar (great individual) yang aktivitasnya lebih baik dari pada ibadah setahun. Bahkan ketika sedang kondisi peperangan, sebagian kaum muslimin dianjurkan untuk tidak ikut berjihad dan tetap fokus dalam pendidikan. Allah Swt berfirman:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah 122).
Selanjutnya Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita (siraj) segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andaikata dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab mendidik adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.
Al-Ghazali juga menyatakan sebagai berikut: "Seseorang yang berilmu dan kemudian mengamalkan ilmunya itu dialah yang disebut dengan orang besar di semua kerajaan langit, dia bagaikan matahari yang menerangi alam sedangkan ia mempunyai cahaya dalam dirinya seperti minyak kasturi yang mengaharumi orang lain karena ia harum, seorang yang menyibukkan dirinya dalam mengajar berarti dia telah memilih pekerjaan terhormat". Oleh karena itu hendaklah seorang guru memperhatikan dan memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya seagai seorang pendidik.  Wallahua'lam

Nasehat Matematika Plus dan Minus

nasehat matematikaPernah nggak Anda berpikir
1. Mengapa PLUS di kali PLUS hasilnya PLUS?
2. Mengapa MINUS di kali  PLUS atau sebaliknya
PLUS di kali MINUS hasilnya MINUS?
3. Mengapa MINUS di kali MINUS hasilnya PLUS?

Hikmahnya adalah:
(+) PLUS = BENAR
(-) MINUS = SALAH
1. Mengatakan BENAR terhadap sesuatu hal yang BENAR adalah suatu tindakan yang BENAR.
Rumus matematikanya :
+ x + = +
2. Mengatakan BENAR terhadap sesuatu yang SALAH, atau sebaliknya mengatakan SALAH terhadap sesuatu yang BENAR adalah suatu tindakan yang SALAH.
Rumus matematikanya :
+ x – = –
– x + = –
3. Mengatakan SALAH terhadap sesuatu yang SALAH adalah suatu tindakan yang BENAR.
Rumus matematikanya :
– x – = +
Pelajaran matematika ternyata sarat makna, yang bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup…

Kesempurnaan Iman Vs Khadam Jin


 

Banyak orang yang bersusah payah tirakat dengan tujuan ingin mempunyai Khadam Jin sehingga -layaknya cerita Aladin- semua hajatnya akan dibantu oleh Jin tersebut.
Tetapi tatkala kanjeng Nabi Ibrahim AS beliau akan dilempar ke dalam api besar oleh Namrud alaihil La’nah, beliau ditawari bantuan oleh Jibril, penghulu segala Malaikat (bukan cuma Jin!), agar beliau selamat dari kobaran api.
“Apakah (tawaran bantuan) ini perintah Allah untukmu?” Nabi Ibrahim bertanya kepada Jibril.

“Bukan. Tetapi Allah SWT mengizinkan kalau kau menghendaki.”
“Kalau begitu tidak.
آمَّا إِلَيْـكَ فَلََا، آمَّا إِلىَ اللهِ فَبَلَى
Kepadamu, wahai Jibril, aku tidak butuh bantuan. Tetapi kepada Allah sungguh aku menggantungkan harapan…”
Inilah wujud dari kesempurnaan iman yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS, berupa ketergantungan penuh kepada Allah SWT dan menafikan ketergantungan kepada selainNya.

Senin, 02 Februari 2015

Menulis itu melancarkan bicara


Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!
Ya, jika Anda termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah, jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan bisa jadi deras.
Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai. Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih, tak sampai tulisan kesepuluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi. Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair. Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.
Intinya: menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun lisan. Tetaplah menulis!