Selasa, 27 Januari 2015
Dialog Rasulullah dengan Iblis
dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas ra. Iblis Bertamu Kepada Rasulullah SAW Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba – tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk..? Sebab kalian akan membutuhkanku. ”
Rasulullah bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
” Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata: “Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang Yang Dibenci Iblis.
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”
” Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”
“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis. (Bersambung)
Senin, 26 Januari 2015
Karomah Keajaiban Surat Khalifah Umar bin Khattab ra
Ibnu Katsir mengisahkan:
Amr ibn al-Ash RA atas perintah Khalifah Umar bin Khatthab RA berhasil menundukkan negeri Mesir dan mengislamkan penduduknya. Namun tidak selang beberapa lama, Amr ibn al-Ash dikejutkan oleh satu kejadian aneh.
Sungai Nil yang menjadi sumber penghidupan penduduk setempat, tiap tahun sekali harus diberi tumbal. Bila tidak, maka sungai Nil akan berhenti mengalir. Bukan sembarang tumbal, namun tumbal super istemewa, yaitu seorang anak gadis pingitan yang cantik jelita yang didandani secantik mungkin. Dan gadis tumbal tersebut diceburkan ke dalam sungai nil agar bisa mengalir kembali seperti sedia kala.
Tentu budaya ini ditentang oleh Amr ibn al-Ash.
Dan hampir selama tiga bulan sungai Nil kering-kerontang tanpa air setetespun, sampai-sampai penduduk setempat berencana untuk berhijrah.
Kondisi ini tentu membuat Amr ibn al-Ash kebingungan. Meneruskan tradisi penduduk setempat berarti berbuat syirik. Tidak melakukannya, berarti masyarakat akan mengalami kekeringan entah sampai kapan.
Karena belum juga menemukan solusi, maka Amr ibn al-Ash berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Al Khatthab RA guna meminta petunjuk.
Setelah membaca surat tersebut, Khalifah Umar segera membalas surat gubernurnya ini.
Beliau berkata: Keputusanmu menghentikan kebiasaan buruk itu benar adanya, dan bersama suratku kepadamu ini aku telah mengirimkan surat lain. Setelah sampai, segera lemparkan surat ini ke sungai Nil.
Sesampai surat balasan Khalifah Umar kepada Amr ibn al-Ash, segera ia membuka surat tersebut, dan ternyata didapatkan selembar kertas yang bertuliskan:
“Dari hamba Allah Umar
Pemimpin kaum mukminin
kepada sungai Nil negeri Mesir.
Amma ba’du:
bila selama ini airmu mengalir atas kehendakmu sendiri,
maka jangan pernah lagi engkau mengalir.
Namun bila Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa
yang menjadikan airmu mengalir,
maka kami memohon kepada Allah
agar mengalirkan airmu.”
SUBHANALLAH, WALLAHU AKBAR. Setelah surat itu diceburkan ke sungai Nil, maka sungai Nil menyemburkan airnya dan mengalir lagi seperti sedia kala. Tradisi syirik larung gadis cantik itupun sirna hingga saat ini.
Manusia paling membingungkan
RenunganSeorang ahlul hikmah sewaktu ditanya apakah yang paling membingungkan di dunia ini ?
Beliau menjawab Manusia
Mengapa?
Karena ia mengorbankan kesehatannya hanya demi uang,
lalu ia mengorbankan uang nya demi kesehatan
lalu ia sangat khawatir dengan masa depannya,
sampai ia tidak menikmati masa kininya ,
seolah olah ia ingin hidup. dan tidak akan mati,
lalu ia Mati tanpa benar-benar menikmati apa itu hidup.
Astaghfirullah.
ampuni kami ya Allah…
Allah Sangat Memperhatikan Pembaca Al Quran
“Allah lebih mendengarkan dengan penuh perhatian kepada pembaca al qur’an dari pada seorang tuan yang mendengarkan nyanyian hamba perempuannya.” (Hr. Ibnu Majah, Ibnu Haban, dan Hakim Berkata Sahih).
Telah menjadi fitrah dan adat kita menyukai nyanyian. Namun, karena syari’at agama telah melarangnya, maka orang-orang yang kuat beragama tidak akan mendengarkannya. Walaupun demikian, seorang tuan boleh mendengarkan nyanyian hamba sahaya wanitanya.
Tetapi al Qur’an tidak boleh dinyanyikan seperti lagu. Hal itu berdasarkan hadits: Hindarilah oleh kalian (membaca al Qur’an) dengan nada orang bercinta!
Maksudnya, jangan membaca al Qur’an dengan nada yang diatur oleh nada-nada musik dan suara penyanyi lagu cinta. Alim ulama menulis bahwa orang yang membaca al Qur’an seperti itu dianggap fasik dan pendengarnya berdosa besar. Al Qur’an hendaknya dibaca dengan merdu tanpa nada nyanyian, tanpa lagu yang berlebihan.
Diantara sekian banyak hadits yang menerangkan hal ini adalah hadits yang berbunyi, “Hiasilah al Qur’an dengan suara yang merdu.” Hadits yang lain menyebutkan, “Suara merdu melipatgandakan keindahan al Qur’an.”
Syaikh Abdul Qadir Jailani rahmatullah alaihi menulis di dalam al Ghunyah, ketika Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berjalan di Kufah ada sekelompok ahli maksiat yang sedang berkumpul di sebuah rumah. Dalam kumpulan itu, seorang penyanyi yang bernama Zadzan menyanyi dengan diiringi alat music. Mendengar suaranya yang merdu, Ibnu Mas’ud berkata, “Alangkah baiknya jika suara itu jika digunakan untuk membaca al Qur’an.” Lalu ia menutupkan kain dikepalanya dan meninggalkan tempat itu. Mendengar ucapan itu, Zadzan pun bertanya kepada orang lain, maka tahulah ia bahwa orang itu adalah Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wassalam.
Ucapan itu sangat berpengaruh kedalam hatinya sehingga ia hancurkan alat-alat musiknya dan mulai menjadi pengikut Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu. di kemudian hari, ia dikenal sebagai seorang ulama pada zamannya.
Banyak riwayat yang menganjurkan agar membaca al Qur’an dengan suara yang lebih indah, namun banyak juga riwayat yang melarang membacanya dengan suara seperti nyanyian sebagaimana riwayat diatas.
Hudzaifah radhiallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda, Bacalah al Qur’an dengan gaya Arab, jangan membacanya seperti seorang yang mabuk cinta atau seorang Yahudi atau Nasrani. Sebentar lagi akan ada suatu kaum yang membaca al Qur’an dengan dilagukan seperti para penyanyi dan seperti orang yang berteriak-teriak meratapi duka, bacaannya tidak akan bermanfaat sedikit pun baginya. Mereka akan mendapat fitnah dan orang-orang yang menganggap bacaan mereka itu bagus pun kan terkena fitnah.
Thawus radhiallahu anhu berkata, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Siapakah yang paling bagus suaranya dalam membaca al Qur’an?” Beliau shallallahu alaihi wassalam menjawab,
Seseorang yang jika kamu melihatnya membaca al Qur’an terasa bahwa ia takut kepada Allah, yakni dari suaranya terasa ia dalam keadaan takut.
Merupakan kenikmatan dari Allah bahwa Dia tidak membebani seseorang itu kecuali sesuai dengan kemampuannya. Sebuah hadits menyebutkan bahwa Allah mengutus malaikat dengan tugas khusus, yaitu jika ada seseorang yang membaca al Qur’an tetapi ia tidak mampu membacanya dengan benar, maka malaikat akan membawanya ke langit setelah ia memperbaiki bacaan orang itu terlebih dahulu.
“Ya Allah, aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu
Telah menjadi fitrah dan adat kita menyukai nyanyian. Namun, karena syari’at agama telah melarangnya, maka orang-orang yang kuat beragama tidak akan mendengarkannya. Walaupun demikian, seorang tuan boleh mendengarkan nyanyian hamba sahaya wanitanya.
Tetapi al Qur’an tidak boleh dinyanyikan seperti lagu. Hal itu berdasarkan hadits: Hindarilah oleh kalian (membaca al Qur’an) dengan nada orang bercinta!
Maksudnya, jangan membaca al Qur’an dengan nada yang diatur oleh nada-nada musik dan suara penyanyi lagu cinta. Alim ulama menulis bahwa orang yang membaca al Qur’an seperti itu dianggap fasik dan pendengarnya berdosa besar. Al Qur’an hendaknya dibaca dengan merdu tanpa nada nyanyian, tanpa lagu yang berlebihan.
Diantara sekian banyak hadits yang menerangkan hal ini adalah hadits yang berbunyi, “Hiasilah al Qur’an dengan suara yang merdu.” Hadits yang lain menyebutkan, “Suara merdu melipatgandakan keindahan al Qur’an.”
Syaikh Abdul Qadir Jailani rahmatullah alaihi menulis di dalam al Ghunyah, ketika Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berjalan di Kufah ada sekelompok ahli maksiat yang sedang berkumpul di sebuah rumah. Dalam kumpulan itu, seorang penyanyi yang bernama Zadzan menyanyi dengan diiringi alat music. Mendengar suaranya yang merdu, Ibnu Mas’ud berkata, “Alangkah baiknya jika suara itu jika digunakan untuk membaca al Qur’an.” Lalu ia menutupkan kain dikepalanya dan meninggalkan tempat itu. Mendengar ucapan itu, Zadzan pun bertanya kepada orang lain, maka tahulah ia bahwa orang itu adalah Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wassalam.
Ucapan itu sangat berpengaruh kedalam hatinya sehingga ia hancurkan alat-alat musiknya dan mulai menjadi pengikut Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu. di kemudian hari, ia dikenal sebagai seorang ulama pada zamannya.
Banyak riwayat yang menganjurkan agar membaca al Qur’an dengan suara yang lebih indah, namun banyak juga riwayat yang melarang membacanya dengan suara seperti nyanyian sebagaimana riwayat diatas.
Hudzaifah radhiallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda, Bacalah al Qur’an dengan gaya Arab, jangan membacanya seperti seorang yang mabuk cinta atau seorang Yahudi atau Nasrani. Sebentar lagi akan ada suatu kaum yang membaca al Qur’an dengan dilagukan seperti para penyanyi dan seperti orang yang berteriak-teriak meratapi duka, bacaannya tidak akan bermanfaat sedikit pun baginya. Mereka akan mendapat fitnah dan orang-orang yang menganggap bacaan mereka itu bagus pun kan terkena fitnah.
Thawus radhiallahu anhu berkata, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Siapakah yang paling bagus suaranya dalam membaca al Qur’an?” Beliau shallallahu alaihi wassalam menjawab,
Seseorang yang jika kamu melihatnya membaca al Qur’an terasa bahwa ia takut kepada Allah, yakni dari suaranya terasa ia dalam keadaan takut.
Merupakan kenikmatan dari Allah bahwa Dia tidak membebani seseorang itu kecuali sesuai dengan kemampuannya. Sebuah hadits menyebutkan bahwa Allah mengutus malaikat dengan tugas khusus, yaitu jika ada seseorang yang membaca al Qur’an tetapi ia tidak mampu membacanya dengan benar, maka malaikat akan membawanya ke langit setelah ia memperbaiki bacaan orang itu terlebih dahulu.
“Ya Allah, aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu
Minggu, 25 Januari 2015
Manfaat Menghafal Al Quran Ternyata Bisa Meningkatkan Prestasi Belajar di Sekolah
Menghafal Al Quran selama ini dianggap menjadi beban, padahal sebenarnya manfaat menghafal Al Quran sangat banyak, salah satunya adalah bisa meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah. Apa korelasinya? Pada artikel berikut Mizan mengumpulkan fakta menarik tentang manfaat menghafal Al Quran.
Menghafal Al Quran atau lebih dikenal dengan istilah Tahfidz memiliki dua hal yang harus dipenuhi, yakni hafal dalam ingatan dan bisa mengucapkannya kembali di luar kepala tanpa membaca Al Quran atau catatan lain.
Tak banyak sekolah yang menerapkan pelajaran menghafal Al Quran sebagai kurikulum, saat ini mungkin terbatas hanya di Sekolah Islam atau Pesantren. Pendidikan formal dianggap lebih penting daripada menghafal Al Quran, parahnya siswa-siswi biasanya menganggap hafalan Al Quran itu sendiri sebagai beban layaknya mendapat tugas pelajaran formal. Tentu ini menjadi tugas berat bagi Orang Tua dan Guru untuk membiasakan anak didiknya ini untuk menghafal Al Quran.
Banyak yang bisa digali dari proses menghafal Al Quran itu sendiri, mulai dari proses atau cara menghafal Al Quran yang kini bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan, hingga ke manfaat dari belajar dan menghafal Al Quran itu sendiri. Adapun manfaat menghafal Al Quran antara lain adalah:
1 Melatih daya konsentrasi.
2 Menstimulus otak dan tingkat kecerdasan.
3 Terhindar dari kepikunan
4 Menumbuhkan kedisiplinan
5 Paham Quran lebih mendalam
6 Keutamaan dunia dan akhirat
7 Untung dalam perdagangan
8 Mahkota Kemuliaan
9 Meningkatkan derajat
10 Syafaat di hari kiamat
11 Kemuliaan (tasyrif) dari Nabi Muhammad
12 Hubungan Menghafal Al Quran dengan Prestasi di Sekolah
13 dan masih banyak rahasia lainnya
Sabtu, 24 Januari 2015
Wujud
Sahabat...
Jika kita hanya mendengar suara orang yg sedang mandi... cebar...cebur... apakah lantas kita menjadi bersih? Tentu tidak, jika ingin bersih, maka kita harus AMALKAN mandi tsb.
Jika kita hanya melihat orang sedang makan, apakah lantas kita menjadi kenyang? Tentunya tidak juga, supaya kenyang kita harus AMALKAN makan tsb.
Manfaat mandi dan makan kita peroleh setelah kita mengamalkannya.
Sahabat...
Jika kita hanya mendengar, melihat, membaca agama ini, apa lantas kita sudah Islam? Tentunya tidak, kita harus AMALAKAN agama ini dgn sebaik2nya.
Mungkin kita sdh sering mendengar, melihat, membaca ttg Islam, tp marilah kita bertanya pd diri ini, apakah kita sudah mengamalkannya?
Maka jangan diri kita asyik mahsyuk hanya berwacana, berteori, berpengetahuan tp malah MISKIN amal, krn inti dari agama ini adalah AMAL yg mana ILMU berperan utk MENYEMPURNAKAN amal.
Belajar berenang... ya hrs "nyemplung" ke air, perlu pengenalan awal memang, tp selanjutnya nyebur ke air, adakalanya air ketelen dst, tp lama2 ngambang juga, lama2 maju juga dan akhirnya bisa berenang, bisa berenang lebih cepat dst.
Belajar naik sepeda... ya hrs naiki sepedanya, kadang kita jatuh, lalu bangkit lagi, sampai akhirnya bisa seimbang, bisa maju, akhirnya bisa belok tanpa jatuh, berani ke jalan raya krn sdh tau cara berkendaraan dgn tdk mengganggu pengendara jalan raya yg lainnya, dst.
Belajar dan amal agama maksudnya adalah kita berusaha untuk menjadi orang yg baik, benar dan mulia tp bukan berarti kita adalah org yg baik, benar & mulia, wallohu'alam... kita tdk tahu, krn yg ber-hak menilai kita hanyalah Allah Ta'ala.
Kita hanya sempurnakan IKHTIAR utk terus menjadi baik dan baik lagi... tp jangan pernah merasa kita sudah sholeh, sdh pintar, sudah mulia...
Kesombongan adalah AWAL dari kebinasaan, sekecil apapun itu, maka tak heran Imam Asy Syafe'i (rah.a) pernah berkata "Semakin tinggi ilmu kita, maka semakin tahu kita akan kebodohan kita"
Maka aneh kalo ngaku pinter tp kok sombong jd knp kok sombong...krn sesungguhnya hny org bodoh yg sombong, yg pinter asli akan rendah hati.
Maka aneh ngaku udh tobat tp kok msh seneng maksiat dan bilang2 ke org lain sy udh tobat kok, krn sesungguhnya org tobat sungguhan akan terus bertobat dan terus merasa berdosa shg sibuk perbaiki diri.
Maka aneh ngaku paham agama tp kok senengnya nyalah2in orang lain melulu, pdhl diri kita penuh aib, ngaku paham agama tp kok hatinya penuh kebencian, pdhl Islam Rahmatan Lil'alaamiin, hatinya penuh kasih sayang krn Allah & RasulNya shg dirinya sayang kpd sesama saudara muslimnya seperti menyayangi dirinya sendiri.
Agama ini bukan hanya perkataan, bukan hanya orasi, bukan hanya dalil, bukan hanya ilmu tp... WUJUD dalam bentuk AKHLAQ yg MULIA seperti yg dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat RA dan orang2 yg mengikutinya.
Wallohu'alam
Surga dalam Keimanan Islam
Di dalam surga ada tenda berongga yang terbuat dari mutiara, lebarnya enam puluh mil. Pada setiap sudut ada penghuninya, yang mereka itu mulus tubuhnya, tidak berbulu, tidak berkumis, dan mata mereka seolah olah memakai celak. Kemudian mereka tetap terjaga, pakaian mereka juga tidak hancur. Mereka tidak buang air kecil dan buang air besar, tidak juga kotor menjijikkan. Sisir mereka terbuat dari emas, keringat mereka wangi bagaikan minyak kesturi. Bidadari surga semuanya cantik jelita, perawan, penuh cinta kasih, dan umur mereka sebaya.
Penghuni surga yang paling rendah tingkatannya adalah orang yang berangan angan sesuatu lalu diberi sepuluh kali lipat angan angannya itu. Para pelayan surga adalah anak anak muda yang tetap muda. Mereka bagaikan mutiara yang bertaburan. Adapun nikmat surga yang paling agung adalah melihat Allah SWT.
Rupa penghuni surga tidak bisa digambarkan dengan rupa penduduk bumi. Tubuh tubuh penghuni surga mulus, tidak berbulu, tidak berkumis, dengan kelopak mata indah seolah memakai celak. Mereka tidak pernah tua dimakan usia, selalu muda dan segar. Pakaian mereka tidak pernah lekang oleh waktu. Tiada pernah buang air kecil dan buang air besar. Mereka senantiasa bersih dan rupawan.
Langganan:
Postingan (Atom)

