Sabtu, 09 Mei 2015

Bercita-citalah Kalian!

Hasil gambar untuk gambar mencapai cita-cita
Ada kisah tentang empat pemuda dengan cita-cita mereka. Suatu kali, Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mush'ab bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan ra. berkumpul di pelataran ka'bah. Mush'ab yang bicara pertama kali dengan mengatakan,"Bercita-citalah kalian." Sahabat yang enggan mengatakan cita-citanya, meminta Mush'ab terlebih dulu menyampaikan cita-citanya.

Mush'ab bertutur,"Aku ingin kaum muslimin bisa menaklukkan wilayah Irak, aku ingin menikahi Sakinah puteri Husein dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah." Tahukah anakku, apa yang kemudian hari berlaku atas Mush'ab? Allah SWT memperkenankannya memperoleh apa yang ia cita-citakan.

Urwah bin Zubair kemudian menceritakan harapannya. "Aku ingin menguasai ilmu fikih dan hadits." Subhanallah, Urwah pun dikemudian hari dikenal sebagai salah satu tokoh ulama fikih dan banyak meriwayatkan hadits.

Abdul Malik bin Marwan mengungkapkan cita-citanya. Ia menyatakan keinginannya untuk menjadi khalifah. Dan benar Abdul Malik bin Marwan kemudian menjadi khalifah di masa Daulah Umawiyah yang dikenal sebagai khalifah yang memiliki ilmu yang luas dan taat beribadah.

Terakhir, Abdullah bin Umar menegaskan cita-citanya, apa cita-cita Abdullah bin Umar? Cita-citanya adalah, surga! luar biasa cita-cita generasi pendahulu kaum muslimin ini, dan Alloh swt. tidak pernah mengabaikan cita-cita kebaikan dan cita-cita kemajuan islam dan ummat islam.


Aku nyatakan cita-citaku : "Aku ingin membawa kaum Muslimin kepada kejayaan, kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenar-benarnya mulai dari dunia ini hingga akhirat nanti." caranya dengan ikut style life sahabat Nabi SAW. all in one. boleh semua ikut ambil bagian!.

Elza Group Raih Juara

Elza group meraih juara dalam ajang lomba seni hadrah Al-Banjari yang diselenggarakan MWC NU Karangpenang menyambut HARLAH NU ke-29.
Saat tampil Elza Group langsung mengebrak dengan vokal lepas yang ditunjukkan oleh Ust. Junaidi sehingga memukau dewan juri dan menghibur hadirin yg berjubel. Tabuhan gendang dipercayakan pd Ust. Mohammad Siri, Ust. Bahruddin dan kawan-kawan benar-benar kompak, rancak, dan mantap.
Al-hamdulillah dengan perolehan juara ini kegiatan seni hadrah menapak pada era baru yg lebih baik insya Alloh.
Menurut Dewan Juri memberikan catatan pada Elza Group untuk terus berbenah terutama kekompakan tetap harus menjadi perioritas utama, semangat dan kebersamaan merupakan senjata utama yang dimiiliki Elza Group, juri juga memberikan atensi untuk aksesories merupakan prasyarat juga disamping skill individu dan managemen yang baik dan barokah, menuai ridho ALLOH swt.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada KH. Manshur Abdullah, Ust. Bahrowi Kholil, Ust. Syaskur Kholil, Bung Mu'i yang telah bersusah payah memberi dorongan semangat pada Elza Group sehingga dapat memberikan tambahan kenangan manis untuk Sumber Penang dan sekitarnya.

Minggu, 03 Mei 2015

Kesabaran Hanya Milik Cinta

Hasil gambar untuk gambar burung gagak
Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.


“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.

Dan aku menjawab, “Burung gagak”.

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

Belajar Sabar

Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. “Datanglah ke sini besok pagi.” katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.


Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu?”

Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas tangannya, anak muda itu langsung berkata, “Ini bukan batu permata yang kemarin saya pegang!”

“Lihatlah, kamu sudah belajar,” kata gurunya. memang belajar itu tidak harus banyak materi yg disampaikan tetapi yang baik adalah "Mengetahui Banyak Hal terhadap Satu Materi" inilah yang disebut "Profesional", berikutnya "Mengatahui Sedikit Hal terhadap Banyak Materi" inilah yg disebut "Tahu Semua Hal tapi tidak ada yang Mendalam." Orang yang banyak tahu tapi dangkal ini biasa sering demo, sering show force, sering unjuk gigi, tapi saat diberi kesempatan untuk memimpin dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Sabtu, 02 Mei 2015

Racun Yang Manis

Hasil gambar untuk gambar racun dalam air
SEORANG lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.

Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.

Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.”

Anak Kita Lebih Dewasa

Hasil gambar untuk gambar anak kecil yg polos
Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya... Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya... Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan... Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?


Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita... Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.

... Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan... Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya... Lebih baik dari sebelumnya."

Jumat, 01 Mei 2015

Hidup Bagai dikejar Singa

Bang kabir, begitu dia biasa dipanggil. Suatu hari dia bercerita di kamarku disela – sela obrolan ringan seputar kehidupan dan bagaimana agar kita saling mengingatkan dalam hal shalat berjama’ah dan ibadah lainnya. Tiba – tiba beliau berkata :
“ kamu tau wan, ada sebuah cerita yang dulu pernah disampaikan oleh guru saya ketika saya mengikuti pengajiannya di salah satu mesjid di desa saya. “
“ gimana bang “ tanyaku heran
“ kita itu hidup di dunia ini bagaikan seorang pemuda yang sedang di kejar singa buas di tengah – tengah hutan belantara. Kemanapun kita lari si singa ini terus mengejar kita, tidak pernah mengenal lelah. Untuk mula – mula boleh lah si pemuda masih kencang larinya, tapi setelah lima jam kemudian apa yang dia rasakan? Tentu kelelahan kan.
Di tengah – tengah kelelahan itu dia sampai ke pinggiran hutan dan si singa masih saja mengejar dia seakan tidak pernah lelah. sekitar tiga puluh kilo meter lagi si singa di belakan dia, tiba – tiba si pemuda menemukan sebuah sumur tua di bawah pohon beringin rindang dengan akar yang menjalar ke mana – mana termasuk ke dalam sumur tersebut.
Tanpa berfikir panjang si pemuda yang sedang ketakutan ini turun ke dalam sumur setelah melihat ada tangga tua yang menjulur ke dasar. Setengah tergopoh dia mencoba turun ke bawah karena takut terkejar oleh sang singa. Tepat di pertangahan tangga yang sudah sangat rapuh itu dia baru dapat menghela nafas agak lega.
Di atas terlihat wajah kepala seekor singa sedang menunggunya keluar. Tanpa disadari tangga yang dia pijak sebenarnya sudah sangat rapuh. Sedikit sja badanya condong ke tengah tangga akan segera roboh. Di bawah sumur tua itu, lagi – lagi tanpa ia sadari terdapat banyak hewan berbisa seperti ular, kalajengking, bahkan mungkin buaya juga ada.

Sehari, dia masih bisa tetap bertahan tanpa makan dan tanpa banyak bergerak. Setelah beberapa hari dia mulai kelaparan dan berusaha mencari apa saja yang bisa dimakan. Tepat di tengah sumur yang nampak ada beberapa tetesan yang jatuh air dari atas pohon yang penuh akar itu. Dia mencoba meraih tetesan demi tetesan yang jatuh ke bawah itu. Pertama dia julurkan tangan kanannya ke tengah demi meraih tetesan air itu, tapi sangat disayangkan dia hanya mendapatkan satu tetesan saja. Untuk mendapatkan lebih banyak dia harus menjulurkan tangannya sedikit lebih panjang ke tengah. Setelah dia minum tetesan itu, alangkah terkejutnya ia karena ternyata itu adalah tetesan dari sarang lebah yang berada tepat di atas lubang sumur tua itu. Ya, tetesan itu adalah air madu yang sangat lezat. Dia mulai kegirangan dan berusaha sebisanya untuk mendapatkan tetesan madu itu lebih banyak lagi.

Dia mencoba menggunakan dedaunan di sampingnya, semakin banyak dia dapatkan semakin brtambah pula ia ingin mendapatkan madu agar lebih banyak lagi. Akhirnya dia mencoba untuk meraup tetesan itu tidak hanya dari satu, dua tetesan saja melainkan beberapa tetesan lain yang sekiranya dapat memuaskan nafsunya.

Dengan sedikit mencondngkan badannya ke tengah ia lupa kalau tangga tempat ia berpijak sudah sangat rapuh. Semakin ia mencondongkan badannya sembari menjulurkan tangan kanan untuk mendapatkan hasil lebih banyak, tiba – tiba tangga yang ia pijak patah hingga tak terelakkan. Diapun terjatuh ke dasar sumur yang penuh dengan berbagai macam hewan berbisa itu. Dalam kepengapan sumur tua itu terdengarlah sorak – sorai beberapa suara binatang yang entah apa itu, seakan mereka sedang merayakan makanan idul fithri yang sangat dinanti – nantikan. Ya, ia kini menjadi santapan hewan – hewan kelaparan di dasar sumur.”

Semoga dengan kisah singkat ini kita bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran untuk dijadikan sebagai acuan dalam mengerjakan amal saleh dan mengumpulkan bekal untuk persiapan di kehidupan kedua yang lebih kekal dan lebih indah dari kehidupan yang sedang kita jalani ini. Semoga bermanfaat.