- Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.
- Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
- Orang pintar belajar agar mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
- Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
- Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH), oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
- Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.
- Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
- Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar demo, Walhasil orang-orang pintar ‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
- Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
- Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Selasa, 12 Mei 2015
Si Bodoh vs Si Pintar
Senin, 11 Mei 2015
Guru Stress
Alkisah dikelas yang tidak ada guru dan sangat berisik menjadi sepi seketika. Guru Bahasa
Indonesia yang paling killer telah masuk ke
dalam kelas. Wajahnya garang seperti
harimau tidak makan satu tahun.
Murid-murid: Selamat pagi, Bu Guru!
Bu Guru (dengan suara keras):
Mengapa bilang selamat pagi
saja? Kalau begitu siang, sampai malam
kalian mendoakan saya tidak selamat ya?
Murid-murid: Selamat pagi, siang sampai malam Bu Guru…..
Bu guru: Kenapa panjang sekali? Tidak
pernah orang mengucapkan selamat
kaya itu! Katakan saja selamat
sejahtera, bukankah lebih bagus didengar
dan penuh makna? Lagipula ucapan ini
meliputi semua masa dan keadaan.
Murid-murid: Selamat sejahtera Bu Guru!
Bu guru: Iya, duduk! Dengar
baik-baik. Hari ini Bu Guru akan menguji
kalian semua tentang
antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan
perkataannya, kalian semua harus cepat-cepat
menjawabnya dengan lawan katanya, jelas?
Murid-murid: Jelas Bu Guru…
Bu Guru: Pandai!
Murid: Bodoh!
Bu Guru: Tinggi!
Murid: Rendah!
Bu Guru: Jauh!
Murid: Dekat!
Bu Guru: Berjaya!
Murid: Menang!
Bu Guru: Salah itu!
Murid: Betul ini!
Bu Guru (geram): Bodoh!
Murid: Pandai!
Bu Guru: Bukan!
Murid: Ya!
Bu Guru (mulai pusing): Oh Tuhan!
Murid: Oh Hamba!
Bu Guru: Dengar ini…
Murid: Dengar itu…
Bu Guru: Diam!!!!!
Murid: Ribut!!!!!
Bu Guru: Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid: Ini adalah jawaban, pandai!!!
Bu Guru: Mati aku!
Murid: Hidup kami!
Bu Guru: Saya rotan baru tau rasa!!
Murid: Kita akar lama tak tau rasa!!
Bu Guru: Malas aku ngajar kalian!
Murid: Rajin kami belajar bu guru…
Bu Guru: Kalian gila semua!!!
Murid: Kami waras sebagian!
Bu Guru: Cukup! Cukup!
Murid: Kurang! Kurang!
Bu Guru: Sudah! Sudah!
Murid : Belum! Belum!
Bu Guru: Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid: Sebab saya seorang pandai!
Bu Guru: Oh! Melawan, ya??!!
Murid: Oh! Mengalah, tidak??!!
Bu Guru: Kurang ajar!
Murid: Cukup ajar!
Bu Guru: Habis aku!
Murid: Kekal kamu!
Bu Guru (putus asa): O.K. Pelajaran sudah
habis!
Murid: K.O. Pelajaran belum mulai!
Bu Guru: Sudah, bodoh!
Murid: Belum, pandai!
Bu Guru: Berdiri!
Murid: Duduk!
Bu Guru: Bego kalian ini!
Murid: Cerdik kami itu!
Bu Guru: Rusak!
Murid: Baik!
Bu Guru (stres): Kamu semua ditahan siang
hari ini!!!
Murid: Kami sebagian dilepaskan
tengah malam itu!!
Bu Guru (stres): 66666
Murid: 99999
Bu Guru (stres): !!!!!
Murid-murid: ?????
Minggu, 10 Mei 2015
Kasih Ibu Kepada Beta
Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan
selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan
tangannya dengan lap. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
***
Sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun
uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun
liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat
mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah
kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan
angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih? Tidak sahabat,
sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah
kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….Sabtu, 09 Mei 2015
Jadilah Pemenang!
Perang Mu’tah, adalah perang yang secara rasio tak akan membuat manusia
optimis apalagi yakin dengan kemenangan yang dijanjikan. Bayangkan saya,
jumlah pasukan Romawi yang berkumpul pada hari itu lebih dari 200.000
tentara, lengkap dengan baju perang yang gagah, panji-panji dari kain
sutra, senjata-senjata yang perkasa, lalu dengan kuda-kuda yang juga
siap dipacu.
Abu Hurairah bersaksi atas perang ini. ”Aku menyaksikan Perang Mu’tah. Ketika kami berdekatan dengan orang-orang musyrik. Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya. Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas. Sehingga mataku terasa silau,” ujar Abu Hurairah.
Sebelum melihatnya, pasukan para sahabat yang hanya berjumlah 3.000 orang-orang beriman, sudah mendengar kabar tentang besarnya pasukan lawan. Sampai-sampai mereka mengajukan berbagai pendapat, untuk memikirkan jalan keluar. Ada yang berpendapat agar pasukan Islam mengirimkan surat kepada Rasulullah saw, mengabarkan jumlah musuh yang dihadapi dan berharap kiriman bala bantuan lagi. Banyak sekali usulan yang mengemuka, sampai kemudian Abdullah ibnu Rawahah yang diangkap sebagai panglima pertama berkata di depan pasukan.
”Demi Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya. Majulah ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang atau syahid!”
Pemimpin yang baik tidak pernah gentar dengan tantangan, tidak pernah surut langkah dalam menggapai tujuan hakiki yakni "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Abu Hurairah bersaksi atas perang ini. ”Aku menyaksikan Perang Mu’tah. Ketika kami berdekatan dengan orang-orang musyrik. Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya. Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas. Sehingga mataku terasa silau,” ujar Abu Hurairah.
Sebelum melihatnya, pasukan para sahabat yang hanya berjumlah 3.000 orang-orang beriman, sudah mendengar kabar tentang besarnya pasukan lawan. Sampai-sampai mereka mengajukan berbagai pendapat, untuk memikirkan jalan keluar. Ada yang berpendapat agar pasukan Islam mengirimkan surat kepada Rasulullah saw, mengabarkan jumlah musuh yang dihadapi dan berharap kiriman bala bantuan lagi. Banyak sekali usulan yang mengemuka, sampai kemudian Abdullah ibnu Rawahah yang diangkap sebagai panglima pertama berkata di depan pasukan.
”Demi Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya. Majulah ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang atau syahid!”
Pemimpin yang baik tidak pernah gentar dengan tantangan, tidak pernah surut langkah dalam menggapai tujuan hakiki yakni "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Bercita-citalah Kalian!
Ada kisah tentang empat pemuda dengan cita-cita mereka. Suatu kali, Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mush'ab bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan ra. berkumpul di pelataran ka'bah. Mush'ab yang bicara pertama kali dengan mengatakan,"Bercita-citalah kalian." Sahabat yang enggan mengatakan cita-citanya, meminta Mush'ab terlebih dulu menyampaikan cita-citanya.
Mush'ab bertutur,"Aku ingin kaum muslimin bisa menaklukkan wilayah Irak, aku ingin menikahi Sakinah puteri Husein dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah." Tahukah anakku, apa yang kemudian hari berlaku atas Mush'ab? Allah SWT memperkenankannya memperoleh apa yang ia cita-citakan.
Urwah bin Zubair kemudian menceritakan harapannya. "Aku ingin menguasai ilmu fikih dan hadits." Subhanallah, Urwah pun dikemudian hari dikenal sebagai salah satu tokoh ulama fikih dan banyak meriwayatkan hadits.
Abdul Malik bin Marwan mengungkapkan cita-citanya. Ia menyatakan keinginannya untuk menjadi khalifah. Dan benar Abdul Malik bin Marwan kemudian menjadi khalifah di masa Daulah Umawiyah yang dikenal sebagai khalifah yang memiliki ilmu yang luas dan taat beribadah.
Terakhir, Abdullah bin Umar menegaskan cita-citanya, apa cita-cita Abdullah bin Umar? Cita-citanya adalah, surga! luar biasa cita-cita generasi pendahulu kaum muslimin ini, dan Alloh swt. tidak pernah mengabaikan cita-cita kebaikan dan cita-cita kemajuan islam dan ummat islam.
Aku nyatakan cita-citaku : "Aku ingin membawa kaum Muslimin kepada kejayaan, kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenar-benarnya mulai dari dunia ini hingga akhirat nanti." caranya dengan ikut style life sahabat Nabi SAW. all in one. boleh semua ikut ambil bagian!.
Elza Group Raih Juara
Elza group meraih juara dalam ajang lomba seni hadrah Al-Banjari yang diselenggarakan MWC NU Karangpenang menyambut HARLAH NU ke-29.
Saat tampil Elza Group langsung mengebrak dengan vokal lepas yang ditunjukkan oleh Ust. Junaidi sehingga memukau dewan juri dan menghibur hadirin yg berjubel. Tabuhan gendang dipercayakan pd Ust. Mohammad Siri, Ust. Bahruddin dan kawan-kawan benar-benar kompak, rancak, dan mantap.
Al-hamdulillah dengan perolehan juara ini kegiatan seni hadrah menapak pada era baru yg lebih baik insya Alloh.
Menurut Dewan Juri memberikan catatan pada Elza Group untuk terus berbenah terutama kekompakan tetap harus menjadi perioritas utama, semangat dan kebersamaan merupakan senjata utama yang dimiiliki Elza Group, juri juga memberikan atensi untuk aksesories merupakan prasyarat juga disamping skill individu dan managemen yang baik dan barokah, menuai ridho ALLOH swt.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada KH. Manshur Abdullah, Ust. Bahrowi Kholil, Ust. Syaskur Kholil, Bung Mu'i yang telah bersusah payah memberi dorongan semangat pada Elza Group sehingga dapat memberikan tambahan kenangan manis untuk Sumber Penang dan sekitarnya.
Saat tampil Elza Group langsung mengebrak dengan vokal lepas yang ditunjukkan oleh Ust. Junaidi sehingga memukau dewan juri dan menghibur hadirin yg berjubel. Tabuhan gendang dipercayakan pd Ust. Mohammad Siri, Ust. Bahruddin dan kawan-kawan benar-benar kompak, rancak, dan mantap.
Al-hamdulillah dengan perolehan juara ini kegiatan seni hadrah menapak pada era baru yg lebih baik insya Alloh.
Menurut Dewan Juri memberikan catatan pada Elza Group untuk terus berbenah terutama kekompakan tetap harus menjadi perioritas utama, semangat dan kebersamaan merupakan senjata utama yang dimiiliki Elza Group, juri juga memberikan atensi untuk aksesories merupakan prasyarat juga disamping skill individu dan managemen yang baik dan barokah, menuai ridho ALLOH swt.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada KH. Manshur Abdullah, Ust. Bahrowi Kholil, Ust. Syaskur Kholil, Bung Mu'i yang telah bersusah payah memberi dorongan semangat pada Elza Group sehingga dapat memberikan tambahan kenangan manis untuk Sumber Penang dan sekitarnya.
Minggu, 03 Mei 2015
Kesabaran Hanya Milik Cinta
Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”
Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.
Dan aku menjawab, “Burung gagak”.
Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”
Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”
Langganan:
Postingan (Atom)


