Rabu, 22 April 2015

Onta pun Mengadu

Hasil gambar untuk gambar kartun unta
Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad SAW dan Uqa'il melihat seekor onta yang berlari seperti dikejar sesuatu. Beliau akhirnya berhenti untuk memastikan apa yang tengah terjadi pada onta tersebut. Di saat Rasul SAW berhenti, tiba-tiba onta tersebut berlari dan meloncat menuju ke hadapan Rasul SAW, sampai hampir menabrak tubuh Rasulullah.

Rasulullah SAW sangat terkejut dengan kehadiran onta itu ke depannya secara tiba-tiba. Beliau bertanya,
"Apa yang engkau alami, sampai engkau meloncat sejauh itu hingga di depanku?" tanya Rasul SAW.
Onta yang terlihat ketakutan itu langsung menjawab,
"Ya, Rasulullah, aku minta perlindungan darimu."
Uqa'il yang melihat dan mendengar Rasulullah SAW berkomunikasi dengan seekor onta itu, ia merasa sangat keheranan dan hampir tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Namun, hal itu benar-benar terjadi di depannya.


Selang waktu beberapa saat, datanglah seorang Arab yang membawa pedang tajam. Nabi SAW sangat heran dengan orang Arab tersebut.
"Hendak apakah engkau, terhadapku atau dengan onta ini?" tanya Rasululah SAW.
"Wahai Rasul Allah, aku telah membelinya dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi dia tidak mau taat dan tidak mau jinak kepadaku, maka akan aku potong saja dan akan aku berikan dagingnya kepada orang-orang yang memerlukannya," jawab orang Arab itu.

Nabi Muhammad SAW bertanya kepada onta,
"Mengapa engaku mendurhakai dia?" tanya Rasul SAW.

Onta itu pun menjawab,
"Wahai Rasulullah, aku mendurhakainya karena perbuatannya yang buruk. Ia terus menerus tidur, meninggalkan shalat Isya. Seandainya dia mau berjanji kepada engkau untuk mengerjakan shalat Isya, maka aku berjanji pula untuk tidak mendurhakainya, sebab aku sangat takut kalau Allah SWT menurunkan siksaan-Nya kepadaku," jelas onta itu.

Setelah mendengar penuturan onta yang panjang lebar itu, Nabi Muhammad SAW pun mempercayainya, dan orang Arab itu tidak bisa berkelit lagi karena sudah ada bukti dari onta miliknya.
"Aku akan mengembalikan onta ini kepadamu, asalkan engkau berjanji untuk tidak meninggalkan shalat Isya. Akan tetapi jika engkau tidak mau, maka aku akan membawa onta ini," tutur Rasulullah SAW.
"Ya Rasululah, aku berjanji tidak akan meninggalkan shalat Isya lagi dan berjanji pula tidak melakukan maksiat. Jika aku melakukannya, maka onta itu akan aku berikan kepadamu," jawab orang Arab itu dengan sungguh-sungguh.

Setelah mendengar pernyataan orang Arab itu, akhirnya Rasululah SAW menyerahkan onta itu kepada pemiliknya. Rasulullah SAW pun kembali meneruskan perjalanan dengan Uqa'il yang semakin kagum dengan Nabi Muhammad SAW.

Selasa, 21 April 2015

Tak lebih dan Tak kurang

Hasil gambar untuk gambar kartun orang lelaki sederhana
Seorang lelaki Badui, tak datang untuk bergabung dalam halaqah nan mulia. Lelaki ini terus berjalan, menuju ujung ruangan, di pojok bangunan Masjid Nabawi. Di sana, dia tengok kanan dan kiri. Mengangkat kainnya dan berjongkok di ujung ruangan untuk menuntaskan hajatnya. Lelaki Badui ini buang air kecil, buang air kecil!

Para sahabat yang berada di masjid dan sedang berhalaqah, seketika bergejolak. Mereka hendak berdiri, entah dengan niat melakukan apa di hati masing-masing. Para sahabat marah. Dan kemarahan mereka sangat wajar, ini Masjid Nabawi, bukan tempat buang hajat. Para sahabat berhamburan, berdiri, segera berjalan menghampiri lelaki Badui yang sedang menuntaskan hajatnya tadi. Di wajah-wajah mereka tampak jelas rasa jengkel, wong ini masjid malah di jadikan tempat kencing!.

Tapi Rasulullah memanggil dan menenangkan semua sahabat yang sudah siap mengambil aksi. “Jangan, biarkan dia. Jangan menganggunya. Biarkan dia menyelesaikan hajatnya,” ujar Rasulullah saw.

Setelah lelaki Badui ini menyelesaikan urusannya, Rasulullah memanggilnya dengan nada lembut. Padahal, para sahabat, semuanya, sudah berada pada titik didih yang sewaktu-waktu bisa meledak. Lelaki Badui ini datang dan berjalan pelan menghampiri  Rasulullah. Beliau menangkap atmosfer kemarahan yang mengepungnya. Tapi hanya Rasulullah yang ditujunya.

Dengan halus, ketika lelaki Badui ini berada di depan beliau, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya, masjid ini dibangun bukan untuk itu (maksudnya untuk buang hajat). Masjid ini dibangun untuk shalat dan membaca al Qur’an.”

Hanya itu, tidak kurang, tidak berlebihan. Singkat, tapi tepat sasaran.

Lelaki Badui ini paham, lalu ia pergi meninggalkan Masjid Nabawi. Tak lama kemudian waktu shalat tiba, dan Rasulullah memimpin para sahabat untuk menunaikan shalat. Dan yang menarik, lelaki Badui ini bergabung bersama untuk shalat jamaah.

Krisis Madinah dan Sikap Pemimpinnya

Hasil gambar untuk gambar kartun orang kelaparan
Ketika kelaparan di Madirah mencapai puncaknya Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu melakukannya terlebih dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan itu. “Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar.

“Benar,” kata badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang,” tambahnya.


Mendengar kata-kata si badui, Umar bersumpah tidak akan makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat itu, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”

Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Pada kesempatan lain, Umar menerima hadiah makanan lezat dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. Kepada utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.”

Ironisnya, sikap ini justru amat jauh dari para pejabat sekarang. Penderitaan demi penderitaan yang terus melanda bangsa ini, tak meyadarkan mereka. Naiknya harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM naik dan meningkatnya jumlah orang-orang miskin, tak menggugah hati mereka. Bahkan, perilaku boros mereka kian marak.

Anggota Dewan yang ditunjuk rakyat sebagai wakil, justru banyak yang berleha-leha. Santai dan mencari aman. Pada saat yang sama, para pejabat yang juga dipilih langsung, tak pernah memikirkan rakyat. Yang ada dalam benak mereka , bagaimana bisa aman selama lima tahun ke depan. Masya Alloh!!!

Ini Baru Nasehat Ibu Sejati

Hasil gambar untuk gambar kartun ibu bercadar
Seorang Ibu sedang menasehati anak-anaknya yang sebentar lagi akan menuju medan perang.
"Wahai anak-anakku, kalian telah memilih Islam dengan suka rela. Kemudian kalian berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain DIA, sesungguhnya kalian adalah putra dari seorang laki-laki dengan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah menjelek-jelekkan saudara-saudaramu, aku tidak pernah mengubah hubungan shilaturrahmi kalian. Kalian tahu pahala yang disediakan kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir. Ketahuilah, kampung akhirat yang kekal itu lebih baik daripada kampung dunia yang akan binasa ini."

Kemudian ibunya, Al-Khansa Radhiyallohu 'anha membacakan ayat suci Al-Qur'an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
(QS. Ali Imran: 200)


Kemudian si ibu melanjutkan wasiatnya :
"Jika kalian bangun besok pagi-pagi, insya Alloh dalam keadaan selamat, maka keluarlah berperang. Gunakan pengalamanmu dan mohonlah pertolongan Allah SWT. Jika kalian melihat api pertempuran semakin hebat, masuklah kalian ke dalamnya. Dan dapatkanlah kampung abadi sebagai balasannya."

Berkat dorongan nasehat ibunya, tidak ada rasa takut dalam diri keempat anak Khansa r.ha. tersebut.
Sambil mengayunkan pedangnya, salah seorang anaknya bersyair,
"Wahai saudara-saudaraku, ibu kita yang banyak pengalaman telah memanggil kita semalam dan membekali kita dengan nasehat. Semua mutiara yang keluar darinya sungguh sangatlah berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan hari ini."

"Demi Allah, kami tidak akan melanggar nasehat ibu. Nasehatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan sepenuh hati. Segeralah bertempur, gempur musuh hingga kalian lihat keluarga kaisar musnah," sahut salah satu saudaranya.

Dalam pertempuran itu, tentara Islam menang telak. Pasukan Persi hanya sedikit saja yang bisa menyelamatkan diri. Sementara itu sebanyak 7 ribu pasukan muslim mati syahid di jalan Alloh dan keempat putra Al-Khansa r.ha. termasuk didalamnya. Semoga kita dapat mengambil ibroh dari kisah ini, insya Alloh semuanya bersedir?

Senin, 20 April 2015

Pergilah dan Tinggalkan Kisah Inspiratif

Hasil gambar untuk gambar pohon mangga
Pada suatu hari Imam Syibli rah.a. sedang berada di kebunnya yang subur.
Ketika sedang asyik bekerja di kebun itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggilnya.
"Syibli...!!! Syibli...!!!"

Imam Syibli segera menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya. Ternyata, suara itu datang dari sebatang pohon mangga.
"Ada keperluan apa engkau memanggilku?" tanya Imam Syibli.
"Jadilah makhluk yang memiliki sifat sepertiku," jawab pohon mangga itu.
"Apa maksudmu..." tanya Imam Syibli yang tak mengerti.

"Jika aku dilempar dengan batu, aku balas melemparinya itu dengan buahku yang lezat," tutur phon mangga itu.
"Oh...engkau memang baik hati," sahut Imam Syibli.
"Tapi mengapa nasibmu begitu tragis pada akhirnya?" tanya Iman Syibli.

Kini, ganti pohon mangga itu yang keheranan, dan tidak mengerti.
"Apa maksudny Syibli?" tanya pohon mangga.
"Kalau engkau sudah tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang. Daun-daunmu akan digunduli dan dirimu akan menjadi kayu bakar," kata Imam Syibli.
"Itulah nasibku," jawab pohon mangga dengan nada sedih.

"Jadi mana lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara itu yang di sana?" tanya Imam Syibli.
"Inilah kebangganku, memang pohon cemara di sana bisa selamat dengan cara begitu, akan tetapi kalau sudah tua nanti dia itu akan roboh begitu saja dan tidak ada yang mengambil batangnya untuk dibuat kayu bakar, apalagi arang. Sedangkan aku, meskipun pada akhirnya aku dimakan api dan tinggal debu-ku saja, tetapi kepergiaan-ku dengan cara terhormat. Karena manusia tidak akan sembarangan membakarku jika tidak untuk keperluan yang jelas seperti untuk memasak dan sebagainya," jawab pohon mangga.

Pohon mangga melanjutkan penuturannya.
"Jadi semalang-malangnya nasibku, aku masih berusaha untuk tetap dapat berdaya-guna terhadap orang lain sampai pada akhir hidupku," kata pohon mangga.
"Abu bekas pembakaranku juga masih diperlukan orang untuk menggosok perabotan rumah tangga, dan abuku terkenal mahal serta dapat membuat barang-barang dari logam menjadi bersih dan mengkilap. Jadi nasibku lebih baik daripada pohon cemara," tutur pohon mangga menghibur diri.

Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui pendapat pohon mangga.
Lebih baik mati terhormat daripada menjual harga diri dengan bersikap munafik yang bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup dia pun mengikutinya.

Sebaiknya kita tetap berusaha untuk meninggalkan kebaikan terhadap orang lain walaupun diri kita jadi korban dan tidak lagi ada yang mempedulikan, toh kisah perjuangan kita akan dikenal oleh setiap generasi sehingga menjadi inspirasi untuk kemajuan masa depan bangsa ini, negara ini dan agama kita ini.

Kijang pun Memenuhi Janjinya

Hasil gambar untuk gambar kartun kijang
Diriwayatkan oleh Abu Na'im di dalam kitab Al-Hilyah, bahwa seorang laki-laki tengah lewat di sisi Nabi Muhammad SAW dengan membawa seekor kijang hasil tangkapannya. Lalu Allah SWT yang berkuasa atas semua makhluk-Nya, telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi Muhammad SAW.

"Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan anak-anakku kelaparan, diseberang sana." kata kijang itu meminta belas kasihan.

Rasulullah SAW pun mengerti bahasa kijang itu lantas Beliau bercakap-cakap dengan si kijang.
"Apakah yang engkau harapkan dariku?" tanya Rasulullah SAW.
"Tolong perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusui anak-anakku dan sesudah itu aku akan kembali kemari," janji kijang itu dengan sangat memohon.

"Bagaimana kalau engkau tidak kembali lagi ke sini?" tutur Rasululah SAW.
"Kalau aku tidak kembali kemari, nanti Allah SWT akan melaknatku sebagaimana ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau di sisinya," janji kijang itu.

Lalu Nabi SAW. menyampaikan hal itu kepada pemuda yang telah menangkapnya untuk melepaskan kijang itu buat sementara waktu.
"Wahai pemuda, lepaskanlah kijang ini, dan aku akan menjadi penjaminnya," kata Rasululah SAW.
Atas perintah Rasulullah SAW, pemuda itu pun akhirnya melepaskan kijang itu. Kijang itu langsung berlari menuju anak-anaknya untuk meberikan susu. Setelah semua anak-anaknya kenyang, sang induk kembali lagi menemui Rasululah SAW dan pemuda itu menangkapnya kembali.

Maka turunlah malaikat Jibril as. dan menyampaikan pesan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Wahai Muhammad, Allah SWT mengucapkan salam kepada engkau dan Allah SWT berfirman,
Demi kemulian-Ku dan kehormatan-Ku, sesungguhnya kasih sayang-Ku terhadap umat Muhammad lebih dari kasih sayang induk kijang terhadap anak-anaknya dan Aku akan mengembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu telah kembali lagi terhadap engkau."

Umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat.
Hal ini terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan oleh para sahabat mengenai berbagai mukjizat Nabi Muhammad SAW. 

Minggu, 19 April 2015

Pesan Syekh Aidh Al Qarni

Hasil gambar untuk gambar aidh al-qarni
Hati-hatilah bergaul dengan orang yang suka bersikap pesimis karena ketika engkau perlihatkan sekuntum bunga yang indah kepadanya maka yang dia lihat hanya duri durinya,
Ketika engkau bawakan segelas air kepadanya, maka yang dia perhatikan hanya kotoran di dalamnya. Demikian juga, ketika engkau memuji kebaikan atau manfaat matahari di hadapannya maka yang ia rasakan hanya panasnya.
Ingatlah, carilah  tiga tipe teman yang harus didekati dan miliki, kegembiraan, ketenangan dan semangat yang tinggi. Tiga musuh yang engkau harus jauhi, yaitu sifat pesimis, bimbang dan putus asa.
Untuk menjaga hatimu, berhati hatilah ikut dalam perkumpulan yang bertujuan mengobarkan permusuhan karena di dalamnya ajaran ajaran agama akan dengan mudah diabaikan dan digadaikan. Selain itu, bergabung di dalamnya akan menghilangkan wibawa, dan menjatuhkan kehormatan. – Aidh Al Qarni-